Namun ternyata, hal tersebut palsu belaka. Laporan beritanya dibuat-buat. Para profesornya adalah aktor bayaran. Kampus tersebut hanya merupakan stok foto di server komputer.
Dilansir New York Times, Selasa (19/5/2015), pada kenyataannya sangat sedikit kampus sungguhan yang menawarkan kuliah online. Setidaknya ada 370 situs yang benar-benar menawarkan, namun setidaknya ada USD 10 juta yang masuk sebagai pendapatan kepada perusahaan software rahasia asal Pakistan.
Axact, nama perusahaan itu, beroperasi di sebuah kota pelabuhan Karachi, yang mempekerjakan lebih dari 2 ribu orang dan menyebut dirinya sendiri sebagai eksportir software terbesar di Pakistan. Axact memang menjual aplikasi beberapa software. Namun berdasarkan pengakuan mantan orang dalam perusahaan itu, catatan perusahaan dan analisis rinci dari website yang merupakan bisnis utama Axact telah melakukan penipuan dalam kurun waktu yang lama yang menjual gelar akademik palsu dan mengubahnya menjadi sebuah skema era Internet pada skala global.
Perusahaan itu secara agresif mencari sekolah dan situs yang tampak menonjol di mesin pencari. Hal itu dilakukan untuk memikat pelanggan potensial.
Di kantor pusat Axact, mantan karyawan mengatakan, pegawai sales bekerja dalam shift sekitar sejam. Kadang-kadang mereka melayani pelanggan yang memahami dengan jelas bahwa mereka membeli gelar instan dengan sejumlah uang. Namun seringkali agen memanipulasi mereka untuk mencari pendidikan yang sesungguhnya, mendorong mereka untuk mendaftar kursus yang tidak pernah terwujud atau meyakinkan mereka bahwa pengalaman hidup mereka cukup untuk mendapatkan ijazah mereka.
Untuk meningkatkan keuntungan, agen tersebut sering menindaklanjuti dengan tipu muslihat termasuk meniru pejabat pemerintah Amerika, untuk membujuk pelanggan untuk membeli sertifikasi mahal atau dokumen otentikasi.
Jumlah pendapatan yang diperkirakan oleh mantan karyawan itu mencapai beberapa juta dollar per bulan. Sementara itu, peran Axact sebagai pemilik kerajaan pendidikan palsu tetap dikaburkan oleh layanan internet proxy, taktik hukum agresif dan kurangnya kronis regulasi di Pakistan.
"Pelanggan pikir itu sebuah universitas, tapi tidak," kata Yasir Jamshaid, seorang pejabat kontrol kualitas yang meninggalkan Axact pada bulan Oktober. "Ini semua tentang uang."
Axact sendiri merespons permintaan wawancara lebih dari beberapa minggu lalu dan membuat daftar pertanyaan detail yang dikirimkan mengenai kepemimpinannya pada hari Kamis. Hal itu dilakukan melalui sebuah surat yang dikirimkan oleh pengacaranya kepada The New York Times pada hari Sabtu. Dalam surat itu, berisi mengenai penyangkalan dan menuduh reporter Times 'datang ke klien kami dengan cerita setengah matang dan teori konspirasi'.
Setelah publikasi artikel awal, Axact memposting respons publik di situsnya bahwa mereka akan mengajukan tuntutan hukum. Pernyataan itu diawali dengan 'Axact mengutuk kisah ini sebagai tak berdasar, tidak standard, memfitnah, dan berdasarkan tuduhan palsu dan hanya bagian dari imajinasi yang diterbitkan tanpa mengambil titik pandang perusahaan."
Pembelian gelar palsu itu dikhawatirkan menimbulkan kemungkinan penipuan imigrasi yang dapat menimbulkan bahaya bagi keselamatan publik dan sistem hukum. Pada tahun 2007, misalnya, pengadilan Inggris memenjarakan Gene Morrison, seorang kriminolog polisi palsu yang mengaku memiliki sertifikat gelar dari Universitas Rochville, milik Axact.
Bisnis Axact itu memiliki tim sales yang berisi orang Pakistan muda dan berpendidikan serta lancar berbahasa Inggris atau Arab. Mereka bekerja dengan menelepon pelanggan yang tertarik dengan situs-situs tersebut. Mereka menawarkan apapun dari gelar di tingkat SMA senilai USD 350 hingga tingkat doktor dengan harga USD 4.000 dan seterusnya.
(Dhani Irawan/Ikhwanul Khabibi)











































