Pembahasan ini akan dilakukan setelah ribuan pencari suaka tiba di wilayah perairan Indonesia dan Malaysia dalam sepekan terakhir. Sejauh ini, negara-negara Asia Tenggara kurang menunjukkan respons terkoordinir terhadap para migran Bangladesh dan Rohingya dari Myanmar yang tiba di perairan mereka.
Sekitar 2.500 migran telah mendarat di Indonesia dan Malaysia dalam sepekan terakhir. Sementara sekitar 5 ribu orang lainnya masih terombang-ambing di lautan dengan menggunakan perahu-perahu reyot.
Pertemuan menteri luar negeri (menlu) Indonesia dan Malaysia semula dijadwalkan digelar pada Senin ini. Namun ditunda hingga Rabu (20/5) agar menlu Thailand bisa ikut hadir.
Demikian disampaikan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Malaysia seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (18/5/2015).
Pertemuan tersebut akan fokus pada pembahasan mengenai perdagangan manusia dan penyelundupan manusia di wilayah tersebut.
"Malaysia akan terus mengupayakan solusi atas masalah ini melalui upaya terpadu dan terkoodinir di antara negara-negara asal, transit dan tujuan," demikian statemen Kementerian Luar Negeri Malaysia.
Diperkirakan sekitar 25 ribu warga Bangladesh dan Rohingya telah menaiki kapal-kapal penyelundup manusia dalam tiga bulan pertama tahun ini. Menurut badan pengungsi PBB, jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2014 lalu.
(ita/ita)











































