Retas Sistem Penerbangan AS 20 Kali, Konsultan Keamanan Ditangkap FBI

Retas Sistem Penerbangan AS 20 Kali, Konsultan Keamanan Ditangkap FBI

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 18 Mei 2015 15:41 WIB
Retas Sistem Penerbangan AS 20 Kali, Konsultan Keamanan Ditangkap FBI
Ilustrasi (Thinkstock)
Washington - Seorang konsultan keamanan dunia maya ditangkap FBI karena meretas sistem komputer penerbangan di Amerika Serikat. Konsultan ini mengaku kepada FBI bahwa dirinya berhasil meretas sistem komputer penerbangan sebanyak 20 kali dan bahkan berhasil mengendalikan pesawat yang tengah mengudara.

Chris Roberts ditahan FBI pada April lalu setelah menumpang pesawat United Airlines tujuan Syracuse, New York, AS. Roberts ditangkap setelah FBI menemukan postingan Twitter-nya yang membahas soal dirinya membajak pesawat yang ditumpanginya. Demikian seperti dilansir CNN, Senin (18/5/2015).

Dokumen FBI atas kasus ini menyebutkan, Roberts diselidiki atas dugaan kejahatan komputer. Dalam interogasi dengan FBI pada Februari dan Maret lalu, Roberts mengaku dirinya telah meretas sistem in-flight entertainment pesawat yang ditumpanginya.

Menurut Roberts, dirinya berhasil meretas sistem penerbangan pesawat sebanyak 15-20 kali antara tahun 2011 hingga 2014 lalu. Roberts juga mengklaim, dirinya pernah meretas hingga berhasil masuk ke dalam sistem dan kemudian memberikan kode komando 'CLB' atau climb yang membuat pesawat sedikit naik.

"Dia (Roberts-red) menyatakan dirinya yang menyebabkan salah satu mesin pesawat naik yang memicu pergerakan miring dari pesawat dalam penerbangannya," demikian bunyi dokumen FBI.

Disebutkan dalam dokumen itu, Roberts mengetahui kelemahan tiga jenis pesawat Boeing dan satu jenis pesawat Airbus. Kepada FBI, Roberts mengaku bisa meretas sistem in-flight entertainment buatan Thales dan Panasonic.

Roberts menggunakan kabel ethernet untuk menyambungkan laptop miliknya dengan kotak elektronik yang ada di bawah kursinya, yang mengendalikan sistem hiburan dalam pesawat atau in-flight entertainment. Dari sana, Roberts meretas pusat sistem komputer pesawat.

"Diyakini Roberts memiliki kemampuan dan kemauan untuk menggunakan perlengkapan yang ada padanya untuk mengakses atau berusaha mengakses sistem hiburan dalam pesawat dan kemungkinan juga mengakses sistem pengendali penerbangan pada setiap pesawat yang dilengkapi dengan sistem hiburan dalam pesawat, dan maka dari itu akan membahayakan keselamatan publik untuk mengizinkannya meninggalkan bandara Syracuse pada malam itu dengan perlengkapan itu," demikian bunyi dokumen FBI.

Sementara itu, dalam pernyataannya via Twitter, Roberts mengaku dirinya diminta untuk tidak banyak berbicara kepada publik. Namun dia sempat menuturkan via Twitter bahwa satu-satunya tujuan melakukan peretasan ini adalah demi meningkatkan keamanan penerbangan.

Roberts juga menuding FBI telah dengan tidak tepat menggabungkan 5 tahun penelitiannya dalam satu paragraf, yang cenderung menyudutkannya. "Banyak yang harus diurai," komentar Roberts via Twitter.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads