Otoritas Mesir mengeksekusi mati enam anggota militan Sinai yang masih terkait dengan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Keenam militan ini dihukum mati karena mendalangi serangan terhadap tentara-tentara Mesir di dekat Kairo, tahun lalu.
Kelompok militan ini menyebut dirinya sebagai Sinai Province, setelah menyatakan sumpah setia kepada ISIS yang merajalela di Suriah dan Irak. Mereka diyakini telah menewaskan ratusan polisi dan tentara Mesir sejak militer mengkudeta Mohamed Morsi dari kursi presiden pada Juli 2013 lalu.
Seperti dilansir Reuters, Senin (18/5/2015), para anggota Sinai Province diadili oleh pengadilan militer di Mesir. Militan yang sebelumnya dikenal dengan nama Ansar Bayt al-Maqdis ini, diyakini telah mendalangi serangkaian serangan bom dan aksi penembakan terhadap polisi dan tentara Mesir, terutama di wilayah Sinai Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Putusan ini lebih merupakan putusan politik daripada putusan pengadilan," sebut pengacara para terdakwa, Ahmed Hammam.
Otoritas Mesir telah membantah tudingan yang menyebut putusan pengadilan setempat telah dipolitisasi.
Pada April lalu, Human Rights Watch yang berbasis di New York, menyebut tiga terdakwa dari militan Mesir yang menghadapi eksekusi mati, sebenarnya tidak ikut serta dalam serangan manapun karena otoritas Mesir telah menangkap mereka sekitar 3 bulan sebelumnya dan ketiganya masih dalam penahanan ketika serangan terjadi.
Setelah melengserkan Mohamed Morsi dari kursi presiden Mesir pada tahun 2013 lalu, mantan komandan militer Mesir Abdel Fattah al-Sisi melancarkan operasi besar-besaran terhadap militan setempat, termasuk para anggota Ikhwanul Muslimin yang kini menjadi organisasi yang dilarang pemerintah Mesir.
Pada Sabtu (16/5), pengadilan Mesir menjatuhkan vonis mati terhadap Morsi dan lebih dari 100 terdakwa lainnya terkait penjebolan penjara secara massal pada tahun 2011 lalu.
(nvc/ita)











































