"Dia akan pergi ke neraka. Ke sanalah dia ingin pergi," ucap Michael Ward, petugas pemadam kebakaran di Boston, seperti dilansir AFP, Sabtu (16/5/2015). Ward sedang cuti saat kejadian pada 15 April 2013, namun dia merawat korban di lokasi kejadian.
"Saya ingat ketika bom meledak dan saya mengingat kekejian, betapa menjijikkan tindakan orang ini," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Liz Norden yang dua putranya kehilangan kaki akibat ledakan bom di garis finish maraton Boston, mengaku lega bahwa Dzhokhar telah divonis mati. "Saya merasakan keadilan untuk anak-anak saya. Rasanya seperti beban berat telah diangkat dari pundak saya," tutur Norden.
"Hati saya bersama seluruh korban selamat. Saya senang dengan vonisnya!" ujar salah satu korban selamat, Adrianne Haslet-Davis yang kehilangan kakinya.
Di sisi lain, tidak sedikit yang merasa sedih dengan vonis yang diterima Dzhokhar. Heather Abbott yang kehilangan kaki sebelah kiri akibat ledakan itu mengaku vonis pengadilan tidak memberinya kedamaian.
"Vonis yang dijatuhkan, terlepas bagaimana pun juga hasilnya, tidak memberikan kedamaian bagi saya," tulis Abbott dalam halaman Facebook yayasannya. Abbott mendirikan yayasan untuk membantu korban ledakan bom dalam mendapatkan kaki prostetik.
"Vonis ini justru memberi kesedihan dan membuat saya teringat lagi tentang bagaimana korban tewas dan korban luka yang dipicu oleh situasi saat itu," imbuhnya.
Tidak jauh berbeda, Karen Brassard yang mengalami luka-luka akibat ledakan itu, mengaku menyambut vonis mati yang diterima Dzhokhar namun dia tidak merasa senang atas vonis itu. Suami dan anak perempuan Brassard juga luka-luka akibat ledakan itu.
"Senang bukanlah kata yang saya gunakan (dalam kasus ini). Tidak ada yang menyenangkan dengan merenggut nyawa seseorang," sebutnya.
(nvc/gah)











































