"Kami datang ke Suriah untuk mengumumkan bahwa dukungan kami bagi rezim Suriah bersifat teguh dan abadi," tutur Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional pada parlemen Iran, Alaedin Boroujerdi di sela-sela kunjungannya ke Suriah, seperti dilansir AFP, Jumat (15/5/2015).
"Kedua pihak memiliki hubungan erat dan strategis... dan tengah berlangsung komunikasi antara Menteri Pertahanan kedua negara," imbuhnya.
Kunjungan Boroujerdi ke Suriah ini termasuk untuk menemui Presiden Suriah Bashar al-Assad, Perdana Menteri Wael al-Halqi dan Menteri Luar Negeri Walid Muallem serta beberapa pejabat Suriah lainnya.
Lebih lanjut, Boroujerdi menyelamati keberhasilan militer Suriah bersama kelompok Hizbullah asal Libanon yang berhasil mengambil alih wilayah perbukitan di Qalamun, yang membentang dari sebelah utara Damaskus hingga ke perbatasan Libanon dalam pertempuran dengan pemberontak.
Iran merupakan sekutu paling dekat Suriah yang dilanda konflik sejak tahun 2011. Selama ini, Iran membantu Suriah baik secara finansial maupun militer. Iran mengerahkan penasihat militernya untuk membantu tentara Suriah menghadapi pemberontak yang ingin melengserkan Presiden Assad.
Menteri Pertahanan Suriah Jenderal Fahd al-Freij datang mengunjungi Teheran, Iran pada April 2015 lalu. Dalam kunjungannya saat itu, Freij menyebut kerja sama ekonomi dan militer antara Suriah dengan Iran sangatlah penting dan diperlukan karena situasi konflik yang terus terjadi.
Ketika ditanya soal program militer AS untuk melatih pemberontak Suriah demi melawan ISIS yang merajelala, Boroujerdi menyebut AS telah dibutakan oleh strateginya sendiri di Suriah.
"Tidak ada teroris yang baik dan teroris yang jahat -- terorisme adalah terorisme, di manapun lokasinya," ucap Boroujerdi.
(nvc/nwk)











































