Militer Amerika Serikat memulai program pelatihan terhadap pemberontak Suriah, yang telah ditunggu sejak lama. Pelatihan ini dimaksudkan untuk membantu perlawanan terhadap militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Selama ini, AS dan koalisinya membombardir ISIS di Suriah via udara seiring pemberontak dan pasukan Kurdi melakukan perlawanan secara langsung di medan pertempuran. Demi mematangkan keahlian dan kemampuan pemberontak dan pasukan Kurdi di Suriah, maka AS memilih untuk melatih mereka.
Menteri Pertahanan AS, Ash Carter menuturkan, pelatihan dimulai untuk kelompok lebih kecil yang terdiri atas 90 pemberontak Suriah. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (8/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, program ini diragukan oleh pemberontak Suriah dan Kongres AS sendiri. Bahkan beberapa anggota parlemen AS menyebut program ini terlalu kecil dan berjalan lamban. Departemen Pertahanan AS alias Pentagon memang memperkirakan, dibutuhkan sedikitnya waktu 3 tahun untuk melatih dan mempersenjatai sebanyak 15 ribu pasukan oposisi Suriah.
Sedangkan Carter mengakui bahwa program pelatihan ini akan memakan banyak waktu hingga berbulan-bulan, sebelum kelompok pertama yang terdiri atas 90 pemberontak Suriah itu mulai dikerahkan ke Suriah. Carter menyebut program ini sebagai program yang penuh kehati-hatian.
"Kami mulai dengan orang-orang yang kami miliki, yang kami latih dengan sangat hati-hati. Kami mengharapkan ini bisa berhasil dan berkembang. Tapi Anda harus memulai dari suatu tempat, dan di sinilah kami memulai," sebut Carter.
Pemerintahan Presiden Barack Obama menyatakan, program ini hanya bertujuan untuk menargetkan ISIS, mengingat AS tidak berperang dengan Suriah. Namun para pengamat menilai, pada praktiknya pembatasan penargetan yang dimaksudkan AS akan sulit terwujud dengan kondisi Suriah yang masih dilanda perang sipil.
Pejuang Suriah yang dilatih AS kemungkinan besar akan bersinggungan dengan tentara rezim Suriah. Terlebih, prioritas anggota koalisi AS seperti Arab Saudi dan Turki adalah penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
(nvc/ita)











































