Pemberontak Syiah Houthi di Yaman menyebut serangan udara koalisi Arab Saudi menewaskan sedikitnya 43 warga sipil. Hal ini terjadi di saat penyaluran bantuan kemanusiaan di wilayah konflik di Yaman terancam terhenti karena bahan bakar semakin menipis.
Serangan koalisi Saudi tersebut merupakan balasan atas serangan roket dan motir yang dilancarkan Houthi ke kota perbatasan Saudi pada Selasa (5/5). Serangan itu merupakan yang pertama kali terjadi sejak koalisi Saudi melancarkan serangan udara terhadap Houthi di Yaman pada 26 Maret lalu.
Juru bicara koalisi Saudi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri menuturkan, serangan Houthi mengenai sekolah khusus putri dan sebuah rumah sakit di kota Najran, yang hanya berjarak 3 kilometer dari perbatasan Yaman dan Saudi. Secara terpisah, otoritas pertahanan sipil di Najran menyebut 3 orang tewas dan 37 lainnya luka-luka akibat serangan Houthi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang sumber dari Houthi menuturkan, sedikitnya 43 warga sipil tewas akibat serangan udara Saudi di dua wilayah itu. Sedangkan sebanyak 100 orang lainnya luka-luka akibat serangan yang berlangsung hingga Rabu (6/5) dini hari waktu setempat. Klaim dari Houthi ini belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.
Sumber-sumber lokal menyebut, memang ada serangan besar-besaran yang datang dari arah perbatasan Saudi. Namun mereka tidak bisa menyebut jumlah korban luka maupun korban jiwa akibat serangan itu.
Sementara itu, operasi penyaluran bantuan kemanusiaan di Yaman terancam terhenti karena tim relawan mulai kekurangan bahan bakar dan suplai makanan. Badan PBB, World Food Programme menyebut kebutuhan bahan bakar bulanan mengalami lonjakan tajam, dari yang tadinya 40 ribu liter per bulan menjadi 1 juta liter per bulannya.
"Jutaan nyawa terancam, khususnya anak-anak, dan kemudian kita tidak akan bisa mengatasinya," ucap Direktur Save the Children, Edward Santiago dalam pernyataannya.
Pernyataan Santiago ini sekaligus menanggapi pengumuman koalisi Saudi sebelumnya soal kemungkinan gencatan senjata di beberapa area demi memberikan akses masuk bantuan kemanusiaan. Santiago menilai, gencatan senjata tidak akan cukup untuk mengurangi dampak kemanusiaan.
"Pengumuman baru-baru ini soal rencana gencatan senjata kemanusiaan tidak akan mengurangi dampak kemanusiaan dari konflik yang masih berlangsung," imbuhnya sembari menyerukan penghentian serangan dan konflik secara permanen.
PBB mencatat, sedikitnya 646 warga sipil tewas dalam konflik Yaman, terutama sejak serangan udara koalisi Saudi dimulai pada 26 Maret lalu. Dari angka tersebut, terdapat sedikitnya 131 anak-anak. Sedangkan lebih dari 1.364 warga sipil lainnya menjadi korban luka.
(nvc/ita)











































