Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi, yang tengah mengungsi ke Arab Saudi, menyerukan perundingan damai dengan rival politiknya. Presiden Hadi mengusulkan perundingan damai ini digelar di Saudi pada 17 Mei mendatang.
Usulan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Qatar, Khalid al-Attiyah di sela-sela menghadiri pertemuan regional Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Saudi, seperti dilansir AFP, Rabu (6/5/2015). Perundingan damai untuk konflik Yaman ini juga dibahas dalam pertemuan tersebut.
Ini merupakan yang pertama kalinya disebutkan tanggal dan tempat untuk perundingan membahas konflik Yaman. Enam negara anggota GCC bersikeras bahwa perundingan damai harus digelar di Riyadh, Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden Yaman menyerukan dimulainya dialog di Riyadh pada 17 Mei," tutur Menlu Al-Attiyah kepada wartawan setempat.
Al-Attiyah menambahkan, Presiden Hadi mengharapkan agar semua pihak yang berkonflik bersedia ikut dalam perundingan ini. "Agar semua orang menerima dan bergabung dengan koleganya dari Yaman yang sudah ada di Riyadh... untuk memulai proses ini," sebutnya.
Presiden Hadi dan jajaran pemerintahannya mengungsi ke Saudi, setelah pemberontak Houthi menguasai ibukota Sanaa dan mendesaknya untuk mengungsi ke Aden, sebelum akhirnya menyelamatkan diri ke Saudi. Seluruh negara Teluk Arab, kecuali Oman, telah bergabung dalam koalisi yang dipimpin Saudi, yang melancarkan serangan udara terhadap Houthi di Yaman sejak 26 Maret lalu.
Sejauh ini, Houthi menolak untuk menghadiri perundingan apapun di wilayah Saudi.
(nvc/ita)











































