Seperti dilansir Reuters, Senin (4/5/2015), dua pria asal Korsel yang ditangkap oleh otoritas Korut pada Maret lalu, menuturkan kepada CNN dalam wawancaranya bahwa mereka merupakan mata-mata untuk badan intelijen Korsel. Namun kebenaran klaim ini belum bisa dipastikan.
Otoritas Korut sendiri menyebut dalam pernyataan mereka, bahwa Kim Kuk Gi dan Choe Chun Gil merupakan warga Korsel yang bekerja sebagai mata-mata untuk National Intelligence Service (NIS) Korsel, dari kota perbatasan Dandong di China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Sabtu (2/5), otoritas Korut mengumumkan penangkapan seorang pemuda Korsel berusia 21 tahun yang kedapatan menyeberang ke wilayah Korut via Sungai Yalu dari wilayah China. Pemuda bernama Joo Won-moon ini memiliki US green card dan diketahui merupakan mahasiswa pada New York University.
Selain ketiga orang itu, Korut juga menahan seorang misionaris asal Korsel yang telah divonis hukuman kerja paksa seumur hidup atas dakwaan spionase dan mendirikan gereja bawah tanah. Tidak disebut lebih lanjut identitas warga Korsel keempat ini.
"Karena Korea Utara terus melakukan aksi antikemanusiaan, maka akan memicu kritikan lebih tajam dari Korea Selatan dan dunia internasional," ujar juru bicara South Korean Unification Ministry, Lim Byeong-cheol kepada wartawan setempat.
Pada akhir Maret lalu, otoritas Korsel meminta kepada Korut untuk menggelar diskusi membahas penahanan Choe dan Kim, namun Korut menolak. Namun pada Minggu (3/5), media AS menyatakan otoritas Korut mengizinkan Choe dan Kim untuk diwawancara secara terpisah.
Dalam wawancara itulah, keduanya kompak mengaku sebagai mata-mata untuk Korsel. Choe mengaku dirinya seorang pengusaha dan juga mata-mata selama 3 tahun, sedangkan Kim mengaku dirinya seorang misionaris yang juga mata-mata selama 9 tahun. Keduanya tengah menunggu sidang di Korut.
(nvc/nwk)











































