Mantan Dubes Australia Sebut Keputusan PM Abbott Tarik Dubes di RI Salah

Mantan Dubes Australia Sebut Keputusan PM Abbott Tarik Dubes di RI Salah

- detikNews
Kamis, 30 Apr 2015 17:21 WIB
Mantan Dubes Australia Sebut Keputusan PM Abbott Tarik Dubes di RI Salah
Ilustrasi
Canberra - Perdana Menteri Australia Tony Abbott akan menarik Duta Besarnya di Indonesia, Paul Grigson setelah dua warganya dieksekusi mati. Beberapa mantan Dubes Australia untuk Indonesia menilai keputusan tersebut merupakan pendekatan yang salah.

John McCarthy yang menjabat Dubes Australia untuk Indonesia periode 1997-2000 mengatakan, Australia seharusnya tetap menugaskan Dubesnya di Indonesia agar komunikasi kedua negara tetap berlangsung. Demikian seperti dilansir media Australia, skynews.com.au, Kamis (30/4/2015).

Kemudian Philip Flood yang menjabat periode 1989-1993 dan juga sempat menjadi Menteri Luar Negeri Australia menyatakan, jika dirinya yang harus mengambil keputusan, maka dia tidak akan menarik Dubes Australia di Jakarta, seperti yang dilakukan PM Abbott.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun karena keputusan sudah diambil, Flood memperkirakan penarikan Dubes Australia untuk Indonesia diperkirakan hanya berlangsung untuk jangka waktu singkat saja.

Memiliki pendapat senada, mantan Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr juga menilai bahwa Dubes Australia seharusnya tetap ada di Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan Australia.

"Menarik Duta Besar kita dari jantung Jakarta berarti kita tidak memiliki pengaruh dan agenda ini bisa hilang," tuturnya kepada Sky News.

Memanggil pulang duta besar untuk konsultasi merupakan salah satu bentuk untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap suatu negara. Beberapa jam setelah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dieksekusi mati pada Rabu (29/4), PM Abbott mengumumkan bahwa Dubes Grigson akan ditarik pulang.

Lebih lanjut, Flood menilai keputusan Australia untuk menarik duta besarnya justru akan memberikan dampak yang tidak baik. Australia, lanjutnya, hanya melakukan hal semacam ini dua kali sebelumnya.

"Kami melakukannya dalam kasus uji coba nuklir Prancis di Pasifik dan tidak ada yang memperhatikan. Kami melakukannya terhadap Fiji dan malah lebih merusak kami daripada Fiji," ceritanya.

Sedangkan McCarthy menyebut Indonesia memang telah mengabaikan perwakilan Australia untuk Andrew dan Myuran, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali menunjukkan ketidaksenangan Australia. Namun, McCarthy menilai, seharusnya langkah yang ditempuh pemerintah Australia adalah menghentikan seluruh pertemuan bilateral tingkat menteri selama eksekusi terjadi, atau seterusnya hingga akhir tahun.


(nvc/ita)


Berita Terkait