Berbicara kepada Australia Broadcasting Corporation dan dilansir AFP, Kamis (30/4/2015), Pendeta Burrows yang menjadi konselor Gularte menuturkan bagaimana Gularte (42) kebingungan dengan apa yang terjadi, ketika sipir penjara dan polisi mempersiapkannya untuk dieksekusi mati.
Menurut Burrows, Gularte cenderung tenang ketika dia diborgol. Namun dia menjadi gelisah ketika diserahkan kepada polisi di luar penjara yang kemudian memasangkan rantai di kakinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia tidak marah, dia merasa terganggu. Hal lainnya adalah, 'Oh, mengapa ini terjadi, ini tidak benar, saya membuat kesalahan kecil, mengapa mereka tidak meninggalkan saya di penjara di pulau dan saya tidak akan mengganggu siapapun," imbuhnya.
"Saya pikir saya telah menjelaskan kepadanya soal apa yang terjadi. Tapi sayangnya tidak dimengerti," ucapnya.
Keterangan serupa disampaikan oleh pengacara Gularte, Ricky Gunawan kepada AFP, yang menurutnya, sang klien tidak memahami eksekusi mati yang dihadapinya.
"Dia memiliki pikiran yang penuh khayalan," ujarnya.
"Ketika kami katakan bahwa hukuman mati Anda akan dilaksanakan, dia bilang, 'Hukuman mati apa? Saya tidak akan dihukum mati.' Saya tidak yakin apakah dia 100 persen memahami jika dia akan dieksekusi," imbuh Ricky.
Gularte dieksekusi mati bersama dua terpidana Australia lainnya, empat terpidana Nigeria dan satu terpidana mati Indonesia. Menanggapi eksekusi mati ini, otoritas Brasil mengaku terkejut dan sangat menyesal. Brasil sempat mengajukan permohonan pengampunan Gularte dengan alasan kemanusiaan, karena Gularte mengalami gangguan kejiwaan.
Gularte ditangkap pada tahun 2004 lalu setelah kedapatan membawa 6 kilogram kokain di dalam peralatan selancarnya.
(nvc/ita)











































