Kenangan Tentang Myuran Sukumaran yang Berharap pada SBY dan Jokowi

Kenangan Tentang Myuran Sukumaran yang Berharap pada SBY dan Jokowi

- detikNews
Kamis, 30 Apr 2015 07:42 WIB
Kenangan Tentang Myuran Sukumaran yang Berharap pada SBY dan Jokowi
Myuran Sukumaran (kanan)/AFP
Jakarta - Kematian salah satu Duo Bali Nine, Myuran Sukumaran meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi sejumlah pihak. Salah seorang jurnalis lokal Australia yang megenal Sukumaran saat meliputnya mengatakan Sukumaran merupakan orang baik dengan karakter yang luar biasa.

Koresponden Fairfax Media di Indonesia, Michael Bachelard, menuliskan kenangannya mengenai Sukumaran beberapa jam setelah pria asal Australia tersebut dieksekusi mati. Bachelard mempublish tulisan tersebut di The Sydney Morning Herald, Rabu (29/4).

"Pertemuan pertama kami adalah pada bulan Februari 2012 di pusat administrasi penjara Kerobokan, setelah para perusuh mengusir semua penjaga dan mencoba untuk membakar penjara," tulis Bachelard seperti dilansir dari The Sydney Morning Herald, Kamis (30/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bachelard menceritakan bagaimana Sukumaran saat insiden kerusuhan di LP Kerobokan terjadi berusaha menghalau perusuh yang hendak masuk ke dalam gudang senjata penjara. Dari situ keduanya kian dekat dan sering berkomunikasi melalui email.

Kepada sang jurnalis, Sukumaran kerap mengeluhkan bahwa banyak perdagangan narkoba merajalela di dalam penjara. "Aku sangat muak dengan semua hal tentang geng di sini. Aku sudah beberapa kali terlibat perkelahian dengan mereka, bahkan penjaga tidak resmi dan beberapa anggota resmi kelompok-kelompok. Ini tidak pernah berakhir, saya berharap sipir baru akan sedikit lebih keras," tulis Sukumaran dalam emailnya kepada Bachelard pada Oktober 2013.

Menurut Bachelard, Sukumaran percaya bahwa Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono akan memberikan grasi sebelum masa jabatannya berakhir tahun lalu. Namun hingga mendekati pemilu 2014, SBY tak kunjung memberikan tanda-tanda. Sukumaran pun mengungkapkan kekesalannya.

"Sekarang sudah bulan Juli dan SBY segera meninggalkan kantor (kepresidenan) dan tetap belum ada indikasi dia akan membuat keputusan," keluh Sukumaran kepada Bachelard.

Akhirnya Presiden Joko Widodo terpilih menggantikan SBY. Seperti kebanyakan orang, kata Bachelard, Sukumaran melihat Jokowi sebagai hasil terbaik untuk harapannya yang kandas usai SBY. Sukumaran berpikir sebagai presiden baru, dari sisi kemanusiaan, Jokowi akan mengakui bahwa gembong narkoba tidak layak dihukum mati.

"Itu tidak terjadi. Pada Desember 2014, dengan kata-kata keras, Joko mengumumkan bahwa tidak akan ada pengampunan untuk setiap penyelundup narkoba. Sukumaran putus asa untuk mencari informasi lebih lanjut," tutur Bachelard.

Kepada Bachelard Sukumaran mengaku stres. Harapannya untuk hidup pupus di tangan Jokowi. "Kami berharap sesuatu akan menjadi lebih baik dengan Jokowi, bahwa ia akan menghapuskan hukuman mati, tapi hal-hal tampaknya justru semakin lebih buruk," Sukumaran terus merasa gundah.

Sukumaran lalu terus mencari informasi hingga akhirnya pada 7 Januari lalu Sukumaran secara resmi diberitahu bahwa Jokowi menolak grasinya. Hal pertama yang dikhawatirkan Sukumaran menurut Bachelard adalah justru ibunya, yang pada saat itu datang menjenguk.

"Saya terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Ibuku ada di lantai, banyak air mata, menangis dan tidak bisa bicara. Semua pengedar narkoba besar bebas untuk melakukan apa yang mereka inginkan karena mereka menyuap. Itulah satu-satunya hal yang saya dan Andrew (Chan) tidak bisa lakukan, membayar dengan banyak uang," Sukumaran menampakan kemarahannya kepada Bachelard.

Kemudian emosi Sukumaran tampaknya sedikit mereda seiring berjalannya waktu. Ia mengungkapkan kepada Bachelard bahwa selama di penjara, ia dan Chan sudah banyak berubah. Keduanya melakukan banyak hal dalam 6-7 tahun lebih dari sebagian besar tahanan di seluruh dunia.

Menurut Sukumaran, apa gunanya mengeksekusi mati pengedar karena itu tidak akan menghentikan penyebaran narkoba di Indonesia. Eksekusi mati disebut Sukumaran hanya akan menjadi penghalang sehingga bandar-bandar kelas kakap akan terus menjalankan aksinya.

"Keluarga kami tidak harus menderita seperti ini," ucap Sukumaran sedih kepada Bachelard.

Di akhir tulisannya, Bachelard menyatakan Sukumaran tidak selayaknya mendapat hukuman mati. Ia pun menganggap sistem keadilan di Indonesia konyol.

"Keluarga (Sukumaran) akan menderita selama sisa hidup mereka. Setidaknya, sistem 'keadilan' konyol Indonesia tidak lagi memperpanjang penderitaannya," tutup Bachelard.

(ear/jor)


Berita Terkait