Serangan udara Saudi dan koalisi terhadap Houthi yang didukung Iran, dimulai 26 Maret lalu dan sempat terhenti sebentar pada 22 April, ketika Saudi mengumumkan penghentian serangan dengan alasan tujuan operasi militer telah tercapai. Saudi lantas menyerukan dilanjutkannya perundingan damai untuk menyelesaikan konflik di Yaman.
Namun tidak lama kemudian, Saudi kembali melancarkan serangan udara karena Houthi malah semakin gencar melakukan pertempuran dengan militer Yaman dan milisi loyalis Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Serangan udara Saudi di Yaman pun kembali meningkat akhir-akhir ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanpa rasa malu dan tanpa hormat membombardir dan membunuh sebuah bangsa," sebut Jafari.
"Arab Saudi mengikuti jejak rezim Zionis (Israel-red) dalam dunia Islam," tudingnya.
Saudi dan Amerika Serikat menuding Iran tidak hanya mendukung, melainkan juga mempersenjatai pemberontak Houthi di Yaman. Tudingan ini telah berulang kali dibantah Iran, yang mengaku hanya memberikan dukungan politik dan kemanusiaan untuk Houthi.
Namun baru-baru ini kapal militer AS yang dikerahkan di perairan Yaman untuk memantau aktivitas kapal setempat, memergoki konvoi sejumlah kapal Iran mendekati perairan Yaman, lalu berputar arah dan menjauh dari Yaman. Tidak diketahui pasti alasan konvoi kapal Iran tersebut berputar arah. Namun AS mencurigai kapal-kapal Iran ini membawa senjata untuk Houthi.
Insiden ini terjadi setelah kapal induk USS Theodore Rooselvelt dan beberapa kapal perang AS lainnya dikerahkan ke dekat perairan Yaman. Kapal-kapal AS tersebut diberi tugas untuk melacak kapal-kapal Iran, serta mencegah suplai senjata dari pihak manapun kepada Houthi.
(nvc/ita)











































