Kemarahan dirasakan warga korban gempa di Nepal akibat lambatnya respons pemerintah. Selang tiga hari setelah gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) melanda Nepal, warga yang mengungsi belum juga menerima bantuan dari pemerintah setempat.
Puluhan ribu warga masih harus tidur di pinggir jalan, taman dan area terbuka lainnya, karena rumah mereka hancur ataupun nyaris roboh akibat gempa. Warga setempat juga merasa takut dan trauma dengan adanya gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja.
Rumah sakit di Nepal penuh dengan para korban luka. Sedangkan suplai air bersih, makanan dan listrik sangat langka. Muncul kekhawatiran munculnya wabah penyakit dalam kondisi memprihatinkan seperti itu. Lambatnya penyaluran bantuan terhadap warganya yang menjadi korban gempa, semakin menambah kritikan tajam bagi pemerintah Nepal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami membersihkan sendiri puing-puing dengan tangan kami," imbuhnya seperti dilansir Reuters, Selasa (28/4/2015).
Secara terpisah, otoritas Nepal mengakui pihaknya kewalahan dengan luasnya wilayah yang terkena dampak gempat. "Tantangan besarnya adalah pemulihan," ucap pejabat ternama Nepal, Leela Mani Paudel.
"Kami mendorong negara-negara asing untuk mengirimkan bantuan pemulihan dan tim medis. Kami sangat membutuhkan bantuan ahli asing untuk melalui krisis ini," imbuhnya.
Sementara itu, bantuan asing mulai berdatangan ke Nepal. India merupakan salah satu negara pertama yang tiba di Nepal dengan membawa bantuan tim SAR untuk mencari korban dan juga membawa bantuan logistik.
Direktur Satuan Penanggulangan Bencana Nasional India (NDRF) OP Singh menyatakan, diperlukan alat berat untuk mencari korban yang kemungkinan tertimbun puing-puing. Namun lanjutnya, keberadaan alat berat akan sulit di sejumlah jalanan yang sempit di wilayah Kathmandu.
"Anda harus memindahkan semua puing-puing ini, jadi akan membutuhkan banyak waktu... Saya pikir akan dibutuhkan waktu berminggu-minggu," ucapnya.
Sejauh ini, total jumlah korban tewas akibat gempa di Nepal menembus angka 4.100 orang dan korban luka mencapai 7.500 orang. Otoritas setempat memperkirakan, jumlah korban tewas akan terus bertambah hingga 5 ribu orang.
(nvc/ita)











































