Nyaris 1 juta anak-anak di Nepal terkena dampak parah dari gempa bumi berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR). Tidak hanya mengalami luka-luka, namun anak-anak ini juga rawan terkena penyakit di pengungsian.
United Nations Children's Fund (UNICEF) menuturkan, dengan banyaknya warga Nepal yang memilih tidur di tenda maupun di tempat terbuka, para relawan kemanusiaan berupaya keras melakukan pemantauan dan pengamatan atas penyaluran air bersih dan potensi munculnya penyakit menular.
"Sejauh ini yang kami ketahui adalah nyaris 1 juta anak-anak terkena dampak parah. Kekhawatiran terbesar kami untuk mereka saat ini adalah akses air bersih dan sanitasi, apalagi suplai air dan makanan mulai langka," tutur juru bicar UNICEF, Christopher Tidey seperti dilansir Reuters, Senin (27/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, total jumlah korban tewas akibat gempa yang melanda pada Sabtu (25/4) tersebut, telah mencapai 3.218 orang. Jumlah ini tercatat sebagai yang terburuk setelah gempa bumi tahun 1934 yang menewaskan 8.500 orang.
Sedangkan sebanyak 6.538 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempa. Dilaporkan juga sedikitnya 17 orang tewas akibat salju longsor yang melanda Mount Everest akibat gempa di Nepal.
Jumlah korban tewas ini diperkirakan terus bertambah, mengingat tim penyelamat masih berupaya keras untuk mencapai wilayah terpencil di negara dengan penduduk 28 juta jiwa tersebut. Banyak jasad korban yang ditemukan terkubur di antara reruntuhan bangunan yang roboh akibat gempa.
(nvc/ita)











































