Akibat insiden ini, si anak mengalami luka-luka serius. Sedangkan sang ibu, Julieane Jablonski (38) ditangkap atas dakwaan memberikan mariyuana kepada anak di bawah umur dan mempengaruhi saksi mata. Demikian seperti disampaikan Kepolisian Fort Collins dan dilansir Reuters, Jumat (24/4/2015).
Polisi menuturkan, Jablonski memberikan brownies mariyuana tersebut kepada anaknya, Austin Essig (19) pada 14 April lalu. Gara-gara kue itu, Essig mulai bertingkah aneh hingga akhirnya dia berlari ke arah jendela dan melompat tanpa keraguan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Colorado pada tahun 2012 mendapat izin penggunaan dan konsumsi mariyuana untuk tujuan rekreasional, namun hanya berlaku bagi mereka yang berusia 21 tahun ke atas. Warga di tiga negara lainya dan juga District of Columbia juga mendapat aturan sama, namun tetap saja mariyuana ilegal di bawah hukum federal.
Jablonski ditangkap polisi pada Rabu (22/4) waktu setempat dan pada Kamis (23/4), dia tampil dalam sidang. Essig sebenarnya sudah berusia di atas 18 tahun, sehingga Jablonski seharusnya hanya dijerat pidana kejahatan ringan. Namun adanya dakwaan mempengaruhi saksi mata yang membuat Jablonski harus ditahan.
"Dia berusaha mempengaruhi saksi mata untuk mengubah keterangannya," tutur Wakil Kepala Kepolisian Fort Collins, Cory Christensen.
Insiden semacam ini sebenarnya cukup sering terjadi di wilayah Colorado, terutama semenjak penjualan mariyuana dilegalkan pada tahun lalu. Pada Maret 2014, seorang mahasiswa asal Kongo bernama Levi Thamba Pongi tewas terjun dari kamar hotel di Denver setelah mengkonsumsi kue mariyuana 6 kali melebihi batas yang dianjurkan.
Kemudian bulan Maret lalu, seorang pemuda bernama Luke Gregory Goodman (22) menembak mati dirinya sendiri setelah memakan sejumlah besar permen yang mengandung narkoba.
(nvc/ita)











































