"Jika Houthi atau sekutu-sekutu mereka membuat langkah-langkah agresif, maka akan ada respons," tegas Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, Adel al-Jubeir kepada para wartawan di Washington.
"Keputusan untuk meredakan masalah kini bergantung sepenuhnya pada mereka (Houthi)," tandasnya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang tujuannya adalah fokus ke proses politik, proses kemanusiaan dan di waktu yang sama, berupaya melindungi penduduk Yaman dari agresi Houthi, dan melawan setiap langkah agresi yang dilakukan Houthi," tegas diplomat tinggi Saudi itu.
Serangan udara koalisi Saudi akhirnya dihentikan pada Rabu, 22 April setelah berlangsung selama 4 minggu terakhir. Serangan ini ditargetkan terhadap pemberontak Houthi, yang berusaha menguasai Yaman, serta yang diyakini oleh Saudi didukung dan disuplai senjata oleh Iran.
Iran sendiri telah membantah berulang kali bahwa pihaknya mengirim suplai persenjataan untuk Houthi di Yaman. Namun Iran mengaku memang mendukung Houthi yang sama-sama menganut Syiah dan mengecam serangan udara yang dilakukan koalisi Saudi.
Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab untuk membombardir Houthi sejak 26 Maret lalu, terutama setelah Houthi memaksa Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi mengungsi ke wilayahnya.
Ketegangan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir, di tengah munculnya laporan soal konvoi 9 kapal Iran di perairan Yaman, yang dicurigai membawa suplai senjata. Militer AS lantas mengirimkan salah satu kapal induknya, USS Theodore Roosevelt dan juga kapal dengan rudal jelajah USS Normandy ke perairan Yaman.
Menurut PBB, sekitar 900 orang tewas dalam konflik di Yaman sejak akhir Maret.
(ita/ita)











































