Seperti dilansir AFP, Selasa (21/4/2015), Tsarnaev dijerat sekitar 30 dakwaan pidana terkait pengeboman saat acara maraton di Boston pada tahun 2013 lalu. Mulai dari pembunuhan polisi, pembajakan mobil dan terlibat baku tembak dalam pengejaran dijeratkan kepada Tsarnaev.
Persidangan ini kembali digelar setelah lebih dari 27 ribu orang ikut serta dalam acara maraton di Boston tahun ini. Meskipun masih belum sepenuhnya pulih dari insiden tragis yang menewaskan 3 orang dan melukai 264 orang lainnya, warga Boston mengikuti acara tersebut sebagai bentuk solidaritas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pasangan suami-istri itu kepada surat kabar setempat, The Boston Globe, vonis penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat merupakan jalan terbaik dalam memastikan Tsarnaev menghilang dari masyarakat dengan segera.
Agenda persidangan selanjutnya ialah keterangan saksi mata, baik dari pihak jaksa maupun pengacara terdakwa. Belum diketahui siapa saja yang akan dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus ini.
Tsarnaev sendiri selalu bungkam selama ini. Tidak mungkin keluarganya akan hadir dalam persidangan. Kedua orangtuanya tinggal di Rusia, sedangkan dua saudara perempuannya dan kakak iparnya atau istri dari mendiang kakaknya tinggal di AS.
Sejumlah analisis menyebut, jaksa penuntut akan berusaha keras memastikan 12 juri dalam persidangan bahwa ada banyak faktor, seperti perencanaan tindak pidana, jumlah korban dan tidak adanya penyesalan pelaku, demi menjamin dijatuhkannya hukuman mati.
Sedangkan pengacara terdakwa akan memperjuangkan agar klien mereka dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, tentunya dengan menggambarkan kliennya sebagai pemuda yang bingung dan ketakutan dengan saudaranya Tamerlan Tsarnaev (26) yang radikal. Tamerlan sendiri tewas ditembak polisi saat pengejaran berlangsung.
"Saya pikir kita akan banyak mendengar dari pengacaranya soal siapa terdakwa, usianya yang masih muda, seperti apa kehidupannya, seperti apa hubungannya dengan saudara laki-lakinya," ucap pengamat hukuman mati, Profesor Albert Scherr dari University of New Hampshire.
(nvc/ita)











































