"Bagian dari rencana serangan mereka termasuk menargetkan upacara peringatan ANZAC Day," demikian disampaikan dalam pernyatan gabungan kepolisian federal Australia dan kepolisian negara bagian Victoria, seperti dilansir AFP, Sabtu (18/4/2015).
ANZAC merupakan kependekan dari Australian and New Zealand Army Corps, sebuah pasukan gabungan yang bertempur dalam Perang Dunia I di Gallipoli, kini wilayah Turki. Lebih dari 60 ribu tentara Australia dan Selandia Baru ditugaskan di sana pada tahun 1915, namun sebanyak 11.500 tentara tidak pernah kembali ke negaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian Australia meyakini bahwa serangan teror yang direncanakan lima pemuda ini berkaitan dengan pisau tajam, bahkan dilaporkan melibatkan sebuah pedang. Meskipun belum ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa para tersangka akan melakukan serangan pemenggalan, yang merupakan metode pembunuhan yang biasa dilakukan militan seperti ISIS.
"Pada tahap ini, kami tidak memiliki informasi bahwa serangan melibatkan rencana pemenggalan. Tapi ada petunjuk soal rencana serangan terhadap polisi," terang Pelaksana Tugas Wakil Kepala Kepolisian Victoria, Komisioner Shane Patton dalam konferensi pers.
"Beberapa bukti yang dikumpulkan dari beberapa lokasi dan sejumlah informasi yang kami dapatkan membawa kita meyakini bahwa rencana serangan ini terinspirasi oleh ISIS," imbuhnya.
Lima pemuda ditangkap kepolisian setempat dalam penggerebekan dan penggeledahan di sejumlah lokasi di Melbourne, Sabtu (18/4). Sedikitnya 200 polisi dikerahkan dalam penggerebekan tersebut. Dua tersangka di antaranya, yang masih berusia 18 tahun, dijerat dakwaan terorisme. Sedangkan tiga pelaku lainnya ditangkap terkait kepemilikan senjata api.
(nvc/gah)










































