Ketiga pelaku menjambret korban yang sedang bepergian dengan taksi pada Rabu (15/4) sore melewati sebuah terowongan panjang yang kerap dilanda kemacetan, yang terletak antara Bandara Charles de Gaulle dan Paris. Mereka memecahkan kaca mobil dan merampas tas tangan korban. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (17/4/2015).
Tidak diketahui pasti apakah ketiga pencuri ini hanya kebetulan mendapat perhiasan mewah atau memang mereka mengetahui sejak awal jika korban membawa perhiasan mewah di dalam tas tangannya, seperti sebuah cincin yang bernilai 1,7 juta Euro (Rp 23 miliar). Kepolisian setempat masih menyelidiki lebih mendalam pencurian ini, tanpa mengesampingkan semua kemungkinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terowongan Landy yang memiliki panjang hingga 1,3 kilometer biasa dilalui orang-orang yang baru tiba dari bandara Charles de Gaulle yang hendak menuju Paris. Terowongan ini menjadi lokasi ideal bagi para pelaku kejahatan untuk melakukan perampokan maupun pencurian.
"Ini merupakan kejahatan yang sering terjadi. Pelaku tidak takut apapun, mereka memahami lokasi dan kabur melalui pintu keluar darurat," sebut sumber kepolisian yang memahami penyelidikan kasus ini.
Sopir seringkali teralihkan perhatiannya dan sibuk menelepon, sedangkan tas tangan penumpang diletakkan begitu saja di kursi penumpang. Mobil mewah maupun taksi yang membawa turis yang kemungkinan membawa banyak uang tunai seringklai menjadi target yang mudah bagi pelaku.
Pada Februari 2010 lalu, putri mantan Walikota Kiev, Christina Chernovetska menjadi korban perampokan ketika tas yang berisi perhiasan senilai 4,5 juta Euro (Rp 62 miliar) dicuri darinya. Kemudian pada Agustus 2014 lalu, Pangeran Saudi Abdul Aziz bin Fahd menjadi korban perampokan ketika rombongannya dirampok hingga uang sebesar 250 ribu Euro dan sejumlah dokumen diplomatik dicuri.
(nvc/nwk)











































