Menurut dakwaan pengadilan federal AS, seperti dilansir Reuters, Jumat (17/4/2015), Abdirahman Sheik Mohamud (23) yang merupakan warga naturalisasi AS ini diinstruksikan oleh seorang ulama untuk pulang ke AS dan melakukan serangan terorisme di negeri Paman Sam tersebut.
Dakwaan juga menyebutkan bahwa Mohamud sempat menuturkan kepada seorang rekannya bahwa dia ingin pergi ke pangkalan militer di Texas dan melakukan serangan teror di sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saudara laki-laki Mohamud tewas dalam pertempuran di Suriah, saat bertempur untuk militan Nusra Front, yang masih berafiliasi dengan jaringan Al-Qaeda. Mohamud sendiri juga disebut pernah menjalani pelatihan bersama militan di Suriah, namun tidak disebut nama kelompoknya.
Namun sebelum meninggalkan Suriah, Mohamud sempat memposting materi di media sosial yang isinya mempromosikan simbol ISIS. Meskipun seorang otoritas penegak hukum AS menyebut Mohamud dan saudaranya pernah mengikuti pelatihan dengan militan Nusra Front.
Masih menurut dakwaan tersebut, Mohamud mendapatkan paspor AS dan membeli tiket sekali jalan ke Yunani. Mohamud tercatat meninggalkan AS pada April 2014. Namun bukannya terbang ke Yunani seperti tiket yang dibelinya, Mohamud terbang ke Istanbul, Turki dan kemudian menyeberang ke Suriah.
Di Suriah, Mohamud sempat mengirimkan video dirinya kepada seseorang yang tidak disebut namanya. Dalam video tersebut, Mohamud menunjuk pada sebuah pistol yang dipasang di pinggangnya. Pada adegan lainnya, Mohamud terlihat berdiri di hadapan Gedung Putih dengan membawa bendera hitam.
Sekembalinya di AS, menurut dakwaan, Mohamud memberitahu seseorang yang tidak disebut namanya bahwa saat di Suriah, dirinya sempat mendapat pelatihan menembak, menerobos masuk ke dalam rumah orang lain, menggunakan peledak dan melakukan pertempuran jarak dekat.
Tidak hanya itu, dakwaan juga menyebut bahwa Mohamud sempat mengaku ada seorang ulama dari militan di Suriah yang memintanya untuk kembali ke AS dan melakukan serangan terorisme di negaranya tersebut. Belakangan otoritas AS mengidentifikasi ulama tersebut sebagai perwakilan Nusra Front.
"(Mohamud) Ingin membunuh orang Amerika dan secara khusus ingin menargetkan tentara bersenjata, polisi atau aparat berseragam lainnya," sebut dakwaan tersebut.
(nvc/nwk)











































