Kasus ini menghebohkan publik Prancis, terutama di kota Calais yang menjadi lokasi kejadian. Bendera setengah tiang bahkan tampak dikibarkan di sejumlah gedung di kota tersebut, sebagai bentuk berkabung. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (17/4/2015).
Korban, menurut otoritas setempat, bernama Chloe diculik oleh pelaku dari taman bermain setempat, di mana ibunda korban menemani korban di taman bermain itu. Oleh pelaku, Chloe dipaksa masuk ke dalam mobilnya dan kemudian dibawa ke sebuah hutan yang letaknya tak jauh dari taman bermain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibunda korban berteriak histeris ketika melihat putrinya dibawa oleh pelaku dan dipaksa masuk ke dalam mobil, sebelum akhirnya dibawa pergi. Kepolisian setempat mendapat laporan penculikan ini pada Rabu (15/4), sekitar pukul 15.30 waktu setempat.
Tim pencari pun segera dikerahkan hingga akhirnya polisi menemukan jasad korban di hutan setempat, dalam kondisi telanjang pada sore harinya. Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa korban tewas dicekik dan sempat mengalami kekerasan seksual.
Tidak jauh dari lokasi temuan jasad korban, polisi menemukan mobil yang digunakan pelaku dengan nomor polisi Polandia. Pelaku yang saat itu sedang mabuk, ditangkap tidak jauh dari lokasi.
"Pelaku langsung mengakui keterlibatannya dalam kematian bocah itu," tutur jaksa yang menangani kasus ini, Jean-Perre Valensi dalam konferensi pers.
Pelaku (38) yang tidak disebut namanya ini, memiliki banyak catatan kriminal sebelumnya dan bahkan pernah dipenjara. Pelaku baru tiba di Prancis pada Rabu (15/4) pagi dan berencana melanjutkan perjalanan ke Inggris, tempat saudara perempuannya tinggal.
Perdana Menteri Prancis Manuel Valls menyerukan penyelidikan menyeluruh atas kasus ini dan meminta seluruh masa lalu pelaku diungkap ke publik. "Tergantung pada sistem hukum untuk melakukan penyelidikan dan kita berutang kebenarannya yang sebenarnya kepada keluarga korban," ucapnya.
Sementara itu, sekitar 5 ribu orang di Calais ikut serta dalam aksi massa untuk mengenang korban. Orangtua korban, saudara perempuan dan dua saudara laki-laki korban memimpin aksi massa ini.
(nvc/asp)











































