"(Serangan udara) Mampu melumpuhkan dan menghancurkan banyak infrastruktur militer yang dikuasai Houthi dan Saleh (mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh)," tutur Duta Besar Saudi untuk AS, Adel al-Jubeir seperti dilansir AFP, Kamis (16/4/2015).
Kepada wartawan di Washington, Dubes Jubeir menyatakan, pihaknya mulai melihat perpecahan di dalam tubuh pemberontak Houthi dan jajaran militer pembela Saleh. Kedua kelompok itu berniat mengambil alih kekuasaan Yaman, setelah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi mengasingkan diri ke Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengharapkan untuk melihat lebih banyak lagi dari mereka (yang kembali) seiring semakin meningkatnya tekanan," imbuh Jubeir.
"Operasi ini akan terus berlanjut hingga target kita tercapai. Tidak ada langkah setengah-setengah," tegasnya.
Lebih lanjut, Dubes Jubeir menyebut penyaluran senjata dari Iran kepada pemberontak Houthi telah berhenti semenjak serangan udara koalisi Saudi dilancarkan pada 26 Maret dan semakin ditingkatkan dalam tiga minggu terakhir.
"Kami menguasai udara dan inspeksi kapal. Kami tidak melihat adanya penyaluran persenjataan dari Iran kepada Houthi dengan kapal," tuturnya.
Komisi pertahanan lokal di Yaman yang didukung Saudi, juga mulai mengalami kesuksesan dalam pertempuran melawan Houthi. Mereka berhasil merebut sebagian wilayah Aden dan wilayah lainnya yang dikuasai Houthi.
"Koalisi berhati-hati dalam menyerang target militer dan meminimalkan korban sipil," tandas Jubeir.
(nvc/ita)










































