Salah satunya, Park Eun-mi yang masih menanti jasad putri kesayangannya, Huh Da-yun (16) ditemukan. Tim penyelam menghentikan pencarian sejak beberapa bulan lalu, dengan alasan kondisi air laut yang tidak stabil dan cuaca dingin yang mulai melanda Korsel.
Bangkai kapal Sewol sendiri masih berada di dasar lautan sejak tenggelam pada 16 April 2014. Sedikitnya 304 orang tewas dalam tragedi ini. Sebagian besar korban tewas merupakan anak-anak sekolah menengah yang hendak berlibur bersama ke Pulau Jeju, yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun berlalu, kehidupan Park masih tetap terhenti. Sembilan jasad korban belum juga ditemukan, termasuk putrinya, Da-yun.
"Kami, keluarga dari korban hilang, masih hidup di hari itu -- 16 April 2014," tutur Park yang kesehatannya semakin memburuk, namun dia menolak menjalani perawatan medis.
"Saya tidak bisa memikirkan hal lain selain menemukan putri saya dan korban hilang lainnya," imbuhnya.
Kasus yang menimpa Park merupakan salah satu contoh kasus yang masih belum selesai. Setahun setelah tragedi Sewol terjadi, masih banyak pertanyaan keluarga korban yang belum juga terjawab.
Puluhan orang yang terbukti memiliki kontribusi dalam tenggelamnya kapal feri tersebut, telah diadili dan dijebloskan ke bui. Namun tetap saja, keluarga korban merasa permasalahan utama soal penyebab tenggelamnya kapal Sewol masih belum terjawab.
Di sisi lain, perdebatan terus bergulir soal apakah kapal feri itu perlu diangkat dari dasar lautan. Opsi untuk mengangkat bangkai kapal membutuhkan kemampuan teknis tingkat tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Keputusan akhir soal pengangkatan bangkai kapal Sewol masih belum juga diputuskan oleh pemerintah Korsel.
Keluarga korban menginginkan agar bangkai kapal diangkat dari lautan dengan segera, demi penyelidikan dan pencarian yang lebih menyeluruh. Park Eun Mi bahkan mendesak Presiden Korsel Park Geun-hye untuk menunjukkan tanggung jawabnya.
"Harus diumumkan oleh presiden bahwa pemerintah akan mengangkat kapal dan menemukan korban. Saya pikir presiden harus menepati janjinya," cetus Park, yang baru-baru ini menggelar unjuk rasa bersama suaminya di luar kediaman Presiden Korsel, demi meminta pemerintah melanjutkan operasi pencarian korban yang masih hilang.
(nvc/ita)










































