PBB: ISIS dan Boko Haram Gunakan Pemerkosaan Sebagai Taktik Perang

PBB: ISIS dan Boko Haram Gunakan Pemerkosaan Sebagai Taktik Perang

- detikNews
Selasa, 14 Apr 2015 14:24 WIB
PBB: ISIS dan Boko Haram Gunakan Pemerkosaan Sebagai Taktik Perang
militan ISIS (AFP)
New York, - Kekejian yang dilakukan kelompok-kelompok ekstrem seperti ISIS dan Boko Haram menjadi sorotan dalam laporan tahunan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua gerakan radikal itu semakin sering melakukan pemerkosaan dan kekerasan seks lainnya sebagai taktik perang.

"Tahun 2014 ditandai dengan kasus-kasus pemerkosaan yang mengerikan, perbudakan seks dan perkawinan yang dipaksa, yang digunakan kelompok-kelompok ekstrem sebagai taktik teror," ujar Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam laporan tahunan PBB seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (14/4/2015).

Dalam laporan PBB disebutkan, hasil analisa menunjukkan bahwa serangan-serangan seks di Irak, Suriah dan Nigeria bukanlah kebetulan belaka, melainkan "terkait dengan tujuan strategis, ideologi dan pendanaan kelompok-kelompok ekstrem."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerkosaan dan bentuk-bentuk lain kekerasan seks digunakan untuk melakukan rekrutmen, menteror penduduk, mendapatkan uang lewat perdagangan seks, perdagangan budak dan tebusan.

ISIS dan Boko Haram termasuk di antara 13 kelompok yang dimasukkan PBB ke daftar kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan seks. Secara keseluruhan, 45 kelompok masuk dalam daftar tersebut termasuk 12 faksi pemberontak dari Kongo dan lima kelompok dari Sudan Selatan.

Pembuatan daftar ini dimaksudkan untuk memfokuskan perhatian internasional yang lebih besar pada konflik-konflik yang melibatkan kelompok-kelompok tersebut.

Laporan ini dirilis menjelang genapnya satu tahun penculikan lebih dari 200 anak-anak perempuan dari Chibok, Nigeria utara oleh Boko Haram.

"Pemaksaan pernikahan, perbudakan dan 'penjualan' wanita-wanita dan anak-anak perempuan yang diculik merupakan sentral dari modus operansi dan ideologi Boko Haram," demikian disampaikan dalam laporan PBB tersebut.

(ita/ita)


Berita Terkait