Rubio juga disebut-sebut sebagai lawan yang kuat bagi mentor dan kompetitornya dari Partai Republik, Jeb Bush yang merupakan anak bungsu mantan Presiden George HW Bush dan adik dari mantan Presiden George W Bush. Meskipun sejauh ini Jeb Bush belum mengumumkan secara resmi pencapresannya.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (14/4/2015), Rubio menempatkan dirinya sebagai wajah baru yang bisa melepaskan AS dari dinasti Bush, dan juga Clinton yang telah menguasai politik AS, selama beberapa dekade terakhir dan berniat untuk kembali berkuasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rubio berbicara di acara pencalonan di Miami's Freedom Tower, yang merupakan lokasi pertama pendaftaran ribuan imigran asal Kuba yang melarikan diri dari negaranya pada tahun 1960-an. Sorakan dukungan dan teriakan 'Marco, Marco' membahana ketika Rubio mengumumkan pencalonan dirinya sebagai salah satu kandidat presiden AS dari Partai Republik.
"Di hadapan kita, muncul kesempatan untuk menciptakan babak terhebat dalam kisah luar biasa Amerika. Kita tidak bisa melakukannya dengan kembali pada pemimpin dan gagasan masa lalu," tegas Rubio.
Dalam kritikannya terhadap Hillary, Rubio menyebut mantan Menlu AS itu sebagai 'pemimpin kemarin sore' yang ingin membawa AS kembali ke masa lalu. Pengumuman pencapresan Rubio ini dilakukan selang sehari setelah Hillary mengumumkan pencapresannya.
Keputusan Rubio untuk meninggalkan pencalonan Senat AS dan malah maju pada pemilu 2016 dengan kemungkinan melawan seniornya Jeb Bush, telah menjadi pembicaraan di Florida. Jeb Bush yang menjabat Gubernur Florida selama dua periode berturut-turut, merupakan pendukung Rubio ketika Rubio menjadi Ketua DPR AS.
Ajudan keduanya menyatakan, tidak ada pertikaian antara Rubio dan Jeb Bush, meskipun keduanya bisa saja saling berkompetisi dalam pencapresan Partai Republik. Rubio merupakan politikus Partai Republik ketiga yang maju dalam pencapresan, setelah Senator Texas Ted Cruz dan Senator Kentucky Rand Paul.
(nvc/ita)











































