Robert Bates (72) yang juga menjabat wakil sheriff di Oklahoma ini mengira dirinya menodongkan senjata kejut listrik (taser) ketika menembak Eric Harris (44), yang merupakan tersangka kasus perdagangan senjata pada 2 April lalu.
"Dia menembak saya! Ya Tuhan!" terdengar Harris berteriak di dalam video yang dirilis akhir pekan lalu, seperti dilansir AFP, Selasa (14/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataanya, kantor jaksa distrik Tulsa menyatakan Bates yang menjabat wakil sheriff Tulsa County sejak tahun 2008, dijerat dakwaan pembunuhan yang melibatkan kelalaian yang bisa disalahkan.
Di bawah undang-undang yang berlaku di Oklahoma, kelalaian semacam itu disebut sebagai kurangnya kehati-hatian dalam menjalankan tugas. Pelanggaran terhadap pasal ini memiliki ancaman hukuman 1-2 tahun penjara.
Kepada publik, Bates mengakui dirinya memang menembak mati Harris. "Memang saya," ucapnya seperti dikutip surat kabar setempat, Tulsa World.
Namun Bates menolak untuk memberikan komentar lebih banyak menganai kasus yang menjeratnya. Secara terpisah, seorang polisi di Tulsa yang menyelidiki kasus Bates ini sempat melontarkan pembelaan. Menurut polisi yang enggan menyebut namanya ini, Bates mengakui dirinya mengambil senjata yang salah ketika tengah mengejar Harris.
Penembakan ini terekam oleh kamera mini yang dipasang pada kacamata hitam Bates, yang merupakan salah satu tipe kamera tubuh yang mulai diberlakukan oleh otoritas AS pasca maraknya penembakan berbau rasial.
Pekan lalu, seorang polisi di South Carolina, Michael Slager diadili atas dakwaan pembunuhan karena menembak mati seorang pria kulit hitam bernama Walter Scott, usai bertikai soal insiden lalu lintas. Penembakan pada 4 April itu direkam oleh seorang pejalan kaki dan menjadi bukti kuat dalam kasus ini. Terlihat dalam rekaman video bagaimana Slager menembak Scott sebanyak 8 kali di bagian punggung, ketika Scott berusaha melarikan diri.
(nvc/ita)











































