"Di tingkat Eropa, kami perkirakan sekitar 5 ribu-6 ribu orang telah pergi ke Suriah," ujar Komisioner Kehakiman Uni Eropa Vera Jouriva dalam wawancara dengan Le Figaro seperti dilansir AFP, Senin (13/4/2015).
Ditambahkannya, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar mengingat sulitnya menelusuri para pejuang asing dalam konflik di Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Jouriva, fokus pada mereka yang mencoba pergi ke Suriah untuk melakukan jihad, atau pada mereka yang kembali dari konflik Suriah, merupakan intervensi yang "sangat terlambat."
Dikatakan pejabat Uni Eropa itu, karena itulah Uni Eropa menggunakan pencegahan sebagai alat penekan aliran warga Eropa, serta melihat berbagai alasan mengapa orang-orang bergabung dengan kelompok-kelompok jihadis, selain karena alasan agama.
Menurut Jouriva, peneliti Inggris telah menemukan adanya keinginan untuk berpetualang, faktor kebosanan, ketidakpuasan akan kondisi hidup atau kurangnya prospek pada mereka yang memutuskan untuk meninggalkan keluarga mereka, guna bergabung dengan kelompok jihadis, termasuk ISIS di Suriah.
Fokus lain bagi Uni Eropa adalah mempercepat pertukaran informasi antara aparat kepolisian dan sistem pengadilan negara-negara anggota Uni Eropa.
Kelompok ISIS yang menguasai sejumlah wilayah di Suriah dan Irak, telah menarik ribuan orang pejuang asing, kebanyakan dari negara-negara Barat.
(ita/ita)











































