Memasuki minggu ketiga, pertempuran di Yaman yang dipimpin oleh Saudi dan koalisinya masih terus berlanjut. Semenjak 26 Maret lalu, Saudi memimpin koalisi dari 9 negara Arab dan melancarkan serangan udara terhadap pemberontak Houthi di Yaman, yang menguasai ibukota Sanaa. Sejauh ini, pertempuran sudah meluas hingga ke 15 provinsi dari total 22 provinsi di Yaman.
Seperti dilansir AFP, Senin (13/4/2015), otoritas Saudi khawatir jika pemberontak Houthi berhasil mengambil alih seluruh wilayah Yaman dan mengarahkannya kepada Iran yang dikuasai Syiah, yang merupakan musuh Saudi yang menganut Sunni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan juga menghentikan penyaluran senjata dan bantuan kepada pemberontak (Houthi)," tegasnya.
Namun Pangeran Saud menegaskan, Saudi tidak berperang melawan Iran. "Kami tidak sedang berperang dengan Iran," terangnya.
Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Iran terkait desakan ini. Namun sebelumnya Iran telah membantah pihaknya menyalurkan senjata kepada pemberontak Houthi di Yaman.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei justru menyebut koalisi yang dipimpin Saudi sebagai pelaku kriminal.
Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian membantah laporan media yang menyebut dua anggota pasukan elite Garda Revolusioner ditangkap di Yaman.
"Iran tidak memiliki tentara militer di Yaman," bantahnya seperti dikutip kantor berita IRNA.
(nvc/ita)











































