Pejabat WHO di Thailand Dituding Menyiksa dan Memperbudak Pembantunya

Pejabat WHO di Thailand Dituding Menyiksa dan Memperbudak Pembantunya

- detikNews
Sabtu, 04 Apr 2015 17:51 WIB
Pejabat WHO di Thailand Dituding Menyiksa dan Memperbudak Pembantunya
Ilustrasi
Bangkok - Seorang pejabat dari Organisasi Kesehatan Dunia pada PBB atau WHO yang ada di Thailand dituding memperbudak pembantu rumah tangganya yang berasal dari Ethiopia. Meskipun tudingan ini dibantah, namun kasus ini masih diselidiki otoritas Thailand.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (4/4/2015), pembantu rumah tangga berusia 25 tahun ini telah mengajukan laporan ke polisi setempat, pada bulan lalu, soal majikannya yang kerap memukuli dirinya dan memaksanya bekerja tanpa upah selama hampir 2 tahun.

Majikan pembantu rumah tangga ini diidentifikasi sebagai Dr Yonas Tegegn, yang merupakan perwakilan WHO di Thailand. Tudingan diarahkan kepada Tegegn dan juga istrinya yang juga tinggal di Thailand.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepolisian Thailand, dalam keterangan terpisah, menyatakan pihaknya masih menyelidiki kasus ini secara mendalam. Pasangan suami-istri, dua-duanya dari Ethiopia yang dituding melakukan perbudakan dalam kasus ini juga masih akan dimintai keterangan lebih lanjut.

Sementara itu dalam pernyataannya yang dirilis Sabtu (4/4), Tegegn membantah tudingan yang diarahkan terhadapnya dan sang istri. Tegegn juga berharap agar media massa dan sistem hukum di Thailand memberinya kesempatan yang adil untuk membersihkan nama baiknya yang tercoreng akibat tudingan ini.

"Tudingan yang dilontarkan terhadap saya dan keluarga saya sama sekali tidak berdasar. Kami membantah adanya keterlibatan," ucap Tegegn dalam pernyataan via email kepada AFP.

Dalam kasus ini, si pembantu rumah tangga yang tidak disebut namanya diwakili oleh pengacara bernama Surapong Kongchantuk dari Dewan Pengacara Thailand. Menurut sang pengacara, pembantu rumah tangga ini bekerja untuk keluarga Tegegn sejak Juli 2013 hingga Maret tahun ini.

Selam bekerja untuk keluarga Tegegn, Kongchantuk menyebut kliennya tidak menerima gaji yang layak dan sering mengalami tindak kekerasan fisik. Tidak hanya itu, pembantu rumah tangga ini juga tidur di dalam ruangan yang sama dengan anjing peliharaan keluarga itu dan terkadang hanya diberi makan nasi saja.

Kongchantuk menambahkan, kliennya berhasil kabur dari rumah majikannya dan kemudian diselamatkan seorang pejalan kaki ketika hendak bunuh diri. Setelah itu, pembantu rumah tangga ini diurus oleh NGO lokal dalam melaporkan kasus kekerasan dan perbudakan yang dilakukan majikannya.

Menanggapi kasus ini, seorang pejabat WHO lainnya di Bangkok menyatakan, pihak organisasi menyadari adanya kasus ini melalui media. Namun, pejabat WHO itu menanggap kasus ini merupakan masalah pribadi Tegegn dengan mantan pembantunya.

"WHO memandang tudingan ini sangat serius, dan kami tengah meninjau ulang sesuai prosedur internal WHO," ucap juru bicara WHO.

(nvc/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads