Ketua Liga Arab Nabil al-Arabi mengatakan, operasi militer tersebut akan terus dilakukan sampai para pemberontak Houthi menyerahkan persenjataan mereka dan mundur dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai.
"Operasi akan berlangsung sampai milisi Houthi mundur dan menyerahkan senjatanya," tutur Arabi seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (30/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi hadir di hari pertama KTT tersebut dan meminta agar operasi militer Saudi dkk terus dilakukan sampai para pemberontak Syiah menyerah.
Dalam operasi militer ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini.
Konflik di Yaman terjadi setelah kubu pemberontak Houthi melengserkan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi. Hadi kemudian berupaya mempertahankan kekuasaannya dengan mengungsi dari ibukota Sanaa dan mendirikan pusat pemerintahan di kota Aden. Operasi militer Saudi ini dilakukan setelah Houthi terus bergerak mendekati kota Aden, dan ini dikhawatirkan akan mengancam keselamatan Presiden Hadi.
Sepak terjang kaum Houthi telah membangkitkan dugaan Arab Saudi, bahwa aksi mereka disokong oleh pemerintah Iran, yang juga beraliran Syiah. Namun, baik kaum Houthi dan Iran menepis dugaan tersebut. Meski demikian, ada kekhawatiran bahwa operasi militer Saudi dkk akan memicu konflik baru yang menyeret Iran.
(ita/ita)











































