Akibat serangan udara Saudi dkk itu, bandara Sanaa pun lumpuh. Serangan untuk memerangi Houthi dan pasukan yang setia pada mantan presiden Ali Abdullah Saleh ini, kini telah memasuki malam keempat.
"Ini pertama kalinya mereka menyerang bandara sejak rangkaian peperangan dimulai," ujar sumber penerbangan seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (29/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saksi mata mengaku mendengar tiga ledakan keras dan melihat kobaran api besar saat bandara dibombardir.
Dalam operasi militer di Yaman ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini.
Mesir, Pakistan, Yordania dan Sudan saat ini juga siap untuk berpartisipasi dalam operasi pertempuran di darat, jika nantinya perlu dilakukan.
"Rangkaian serangan ini tujuannya untuk mencegah para pemberontak Houthi menggunakan bandara-bandara dan pesawat untuk menyerang Aden dan bagian-bagian Yaman lainnya serta mencegah mereka menggunakan roket-roket," tutur Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen.
Sebelumnya dalam statemen bersama, lima negara Teluk Arab: Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Qatar telah memutuskan untuk bertindak melindungi Yaman, dari apa yang mereka sebut sebagai agresi milisi Houthi yang didukung Iran.
Kota Aden di Yaman selatan kini menjadi basis Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi setelah meninggalkan ibukota Sanaa, yang sejak Februari lalu dikuasai pemberontak Houthi.
(ita/ita)










































