Dalam prosesi pelepasan jenazah pada Minggu, 22 Maret waktu setempat, pria penganut Yahudi Ortodoks itu menyampaikan kata-kata yang menyentuh para pelayat.
Di depan ratusan pelayat, Gabriel Sassoon mengatakan, satu-satunya cara dia bisa bertahan atas tragedi ini adalah "penyerahan diri yang penuh, benar-benar dan total pada keyakinan agamanya."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketujuh anak tersebut berumur 5 tahun hingga 16 tahun. Dalam tragedi kebakaran itu, hanya satu anaknya, Siporah (15) dan istri Sassoon, Gayle Sassoon (45) yang selamat, meski saat ini keduanya dalam kondisi kritis di rumah sakit.
"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa memiliki segalanya dan kini saya tak punya apa-apa," kata ayah yang berduka itu. Saat kebakaran di rumahnya pada Sabtu, 21 Maret waktu setempat, Sassoon tengah menghadiri konferensi keagamaan.
"Hanya ada satu cara untuk bertahan dari ini: penyerahan diri yang penuh, benar-benar dan total," tuturnya yang disambut anggukan kepala para pelayat.
Menurut dinas Pemadam Kebakaran setempat, kebakaran tersebut disebabkan hot plate yang biasa digunakan penganut Yahudi Ortodoks untuk memanaskan makanan tanpa melanggar aturan hari Sabat. Aturan yang dimaksud adalah soal larangan bekerja di hari Sabat, yang berlangsung mulai dari terbenamnya matahari di hari Jumat hingga terbenamnya matahari di hari Sabtu. Larangan ini mencakup larangan menghidupkan alat-alat listrik.
"Banyak orang menggunakan hot plate ini untuk menjaga makanan tetap hangat hingga keesokan harinya," tutur seorang figur Yahudi setempat.
(ita/ita)











































