Lee Kuan Yew: Jika Tak Ada yang Takut pada Saya, Saya Tak Berarti

Lee Kuan Yew: Jika Tak Ada yang Takut pada Saya, Saya Tak Berarti

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 23 Mar 2015 15:59 WIB
Lee Kuan Yew: Jika Tak Ada yang Takut pada Saya, Saya Tak Berarti
Singapura, -

Tak terbantahkan bahwa Lee Kuan Yew merupakan salah satu figur kebangkitan ekonomi Asia pascaperang. Meski dia juga dikenal sebagai pemimpin otoriter yang mengubah Singapura menjadi pusat perdagangan dan finansial global.

Mantan perdana menteri pertama Singapura yang dikenal sebagai "LKY" itu wafat pada Senin (23/3) pada usia 91 tahun, setelah tujuh pekan berjuang melawan penyakit pneumonia.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun pernah mengatakan usai pertemuannya dengan Lee di Gedung Putih pada Oktober 2009, bahwa "inilah salah satu figur legendaris Asia pada abad 20 dan 21". Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (23/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkat kepemimpinannya, Lee berhasil membawa Singapura mengalami kenaikan rata-rata pendapatan hingga 100 kali. Ditambah dengan tingginya investasi global, layanan sipil yang banyak dipuji dan adanya infrastruktur berkelas dunia.

Namun Lee juga banyak dikritik karena kepemimpinannya yang bertangan besi. Keotoriterannya membuat para politikus oposisi bangkrut ataupun mengasingkan diri. Lee pun pernah melontarkan kutipan dari politikus, ahli filosofi dan penulis tersohor di zaman Renaissance, Machiavelli: "Jika tak ada yang takut pada saya, maka saya tak berarti."

Karir politik Lee berlangsung terus selama 30 tahun sebagai PM dan 20 tahun sebagai penasihat senior pemerintah. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dia tetap dihormati banyak kalangan. Meski Lee juga menjadi target-target kecaman di media sosial karena sejumlah warga Singapura mulai berani berbicara memprotes dirinya serta model politik dan sosial yang telah diperlihatkannya.

Lee pertama kali menjadi PM setelah Inggris memberikan otoritas sendiri pada Singapura pada tahun 1959. Enam tahun kemudian, Lee muncul di panggung dunia ketika dia menjadi pemimpin republik baru Singapura, setelah negeri yang hanya berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu, dikeluarkan dari Federasi Malaysia.

Di bawah kepemimpinan Lee, Singapura yang tadinya bukan apa-apa berubah menjadi salah satu negara Asia terkaya, teraman dan paling stabil. Di tengah kritikan atas keotoriteran Lee, Singapura banyak dipuji sebagai model bagi pembangunan di antara negara-negara bekas jajahan lainnya.

Bagaimanapun, bapak pendiri Singapura itu telah menorehkan sejarah yang tak akan terlupakan sepanjang masa. Selamat jalan, Mr. Lee!

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads