Serangan udara di bandara Matiga pada Kamis, 19 Maret waktu setempat itu, merusak landasan. Namun upaya perbaikan tengah dilakukan dan diperkirakan akan selesai dalam beberapa jam. Matiga merupakan pangkalan militer yang digunakan untuk penerbangan komersial, setelah bandara utama ditutup menyusul pertempuran sengit beberapa waktu lalu.
Belum ada laporan jatuhnya korban dalam insiden ini. Demikian disampaikan juru bicara bandara Matiga seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (20/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan udara itu menunda keberangkatan delegasi dari Tripoli menuju Maroko untuk mengikuti pertemuan yang digelar PBB. Pertemuan itu untuk membujuk pihak-pihak yang bertikai di Libya agar membentuk pemerintahan nasional.
Libya saat ini tengah berada dalam perebutan kekuasaan antara dua pemerintah dan dua parlemen yang bertarung untuk menguasai negara Afrika Utara itu. Perdana Menteri (PM) Libya, Abdullah al-Thinni yang diakui internasional dan parlemen terpilih telah mengungsi ke wilayah Libya timur, sejak kelompok bersenjata menguasai Tripoli beberapa waktu lalu. Kelompok tersebut kemudian membentuk pemerintahan dan parlemen sendiri.
Menurut Mohamed El Hejazi, juru bicara pasukan pendukung PM Thinni, serangan ini dilakukan sebagai "bagian dari perang melawan terorisme, yang akan terus berlangsung sampai Libya bebas dari terorisme".
(ita/ita)











































