Insiden ini terjadi saat pasukan Myanmar bertempur melawan pemberontak etnis Kokang di wilayah perbatasan dengan China. Pemerintah Myanmar menyatakan telah membentuk tim untuk menyelidiki insiden itu. Namun Myanmar membantah bertanggung jawab atas insiden itu, bahkan menuding pemberontak sengaja menciptakan ketidakstabilan di perbatasan.
"Kami ingin menyampaikan duka mendalam kami atas kematian warga China dan mereka yang terluka, yang tinggal di wilayah perbatasan," demikian statemen pemerintah Myanmar seperti dimuat surat kabar pemerintah, Global New Light of Myanmar seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (16/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam statemennya, pemerintah Myanmar menyatakan tim akan menyelidiki apakah para pemberontak Kokang terlibat "untuk menciptakan ketidakstabilan di sepanjang perbatasan".
Bulan lalu, pemerintah Myanmar menyatakan keadaan darurat di Kokang sebagai respons atas konflik yang pecah sejak 9 Februari tersebut. Konflik ini telah mengosongkan kota utama Laukkai di Kokang, yang merupakan pusat pertempuran antara militer Myanmar dan pemberontak. Lebih dari 30 ribu orang telah kabur dari Myanmar menuju provinsi Yunnan, China.
(ita/ita)










































