Ikut Pelatihan Al-Qaeda, Pria Vietnam Diekstradisi ke AS

Ikut Pelatihan Al-Qaeda, Pria Vietnam Diekstradisi ke AS

- detikNews
Rabu, 04 Mar 2015 15:03 WIB
Ikut Pelatihan Al-Qaeda, Pria Vietnam Diekstradisi ke AS
Ilustrasi
New York - Seorang warga negara Vietnam diekstradisi ke Amerika Serikat dari Inggris terkait kasus terorisme. Pria ini didakwa mendapat pelatihan dari militan jaringan Al-Qaeda di Yaman.

Minh Quang Pham (32) akan disidangkan di pengadilan federal AS di New York pada Kamis (5/3) besok, atas dakwaan memberikan dukungan dan menerima pelatihan dari militan Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP). Demikian seperti dilansir AFP, Rabu (4/3/2015).

Jaksa AS Preet Bharara menyatakan, Pham pergi diam-diam dari Inggris ke Yaman pada akhir tahun 2010 lalu dan menghabiskan waktu selama 6 bulan di negara tersebut. Di sana, Pham dilaporkan mendapat pelatihan dan instruksi dari AQAP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama setengah tahun berada di Yaman, Pham diduga bersumpah untuk berjihad... dan memberikan dukungan material untuk anggota senior AQAP, yang selalu membawa senapan Kalashnikov," sebut Bharara dalam pernyataannya.

"(Pham) Menerima pelatihan ala militer dan memiliki senjata untuk melakukan kekerasan (atas nama Al-Qaeda)," sebut pejabat Biro Investigasi Federal atau FBI, Andrew McCabe.

Pham ditangkap di Bandara Heathrow, London ketika baru pulang dari Yaman pada Juli 2011. Polisi menemukan file elektronik pada barang-barang milik Pham, yang semakin menunjukkan keterkaitannya dengan AQAP. Ditemukan juga amunisi yang mampu menembus rompi anti peluru yang bisa digunakan pada senapan Kalashnikov.

Dalam persidangan di pengadilan federal AS, Pham dijerat lima dakwaan terpisah, termasuk dakwaan mendapat pelatihan militer dari jaringan Al-Qaeda dan mendukung militan tersebut. Jika dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan yang dijeratkan kepadanya, Pham terancam hukuman maksimal penjara seumur hidup.

AQAP terbentuk tahun 2009 setelah terjadi peleburan antara militan di Yaman dan Arab Saudi. Kelompok itu diyakini mendalangi serangkaian serangan teror, baik di Yaman maupun di negara lain. Termasuk salah satunya serangan brutal di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris pada Januari lalu.


(nvc/ita)


Berita Terkait