Penembakan tiga warga muslim di Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat, membuktikan bahwa ekstremisme yang berbahaya tak pandang bulu dan bisa terjadi di semua agama. Untuk itu, diperlukan solidaritas yang lebih tinggi antar-umat beragama dalam memerangi ekstremisme.
“Dengan kejadian ini ada hikmah besar yang bisa petik, yaitu membuka mata masyarakat Amerika secara luas bahwa ternyata radikalisme tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. Selama ini orang Islam dituduh sebagai kelompok esktrem. Tapi sekarang kita punya bukti bahwa ekstremisme bisa terjadi pada siapa saja,” kata tokoh muslim Indonesia di AS, Muhammad Shamsi Ali, kepada detikcom, Jumat (13/2/2015).
Secara statistik, kata Ustad Shamsi, jumlah korban penembakan yang dilakukan oleh orang muslim di AS hanya 2 persen dari total yang terjadi. Jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan pelaku lain dalam penembakan-penembakan yang kerap terjadi di sekolah atau di jalan-jalan di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah semakin disadarinya arti penting solidaritas antar-agama. Baik muslim maupun non-muslim bisa menjadi korban maupun pelaku dalam kejahatan, sehingga penting untuk membangun solidaritas yang lebih tinggi.
“Selama ini ada kecenderungan pemahaman bahwa orang Islam adalah pelaku kekerasan. Belum begitu disadari bahwa yang paling banyak menjadi korban teroris adalah orang Islam sendiri. Maka peristiwa penembakan ini membuka mata kita untuk membangun solidaritas yang lebih tinggi antar-agama. Dan itu terbukti dengan banyaknya orang non-muslim yang menyampaikan solidaritas di berbagai kota di Amerika,” ujar alumnus International Islamic University di Pakistan ini.
(gah/gah)











































