Bekas Pembimbing Cheriff Kouachi Kecam Penembakan Charlie Hebdo

Bekas Pembimbing Cheriff Kouachi Kecam Penembakan Charlie Hebdo

- detikNews
Rabu, 14 Jan 2015 10:18 WIB
Bekas Pembimbing Cheriff Kouachi Kecam Penembakan Charlie Hebdo
Cheriff dan Said Kouachi (Reuters)
Paris - Bekas pembimbing Cheriff Kouachi, salah satu pelaku penembakan Charlie Hebdo ikut mengecam aksi brutal muridnya. Dia menyebutnya sebagai tindak kriminal paling buruk yang pernah dilakukan seorang muslim.

Farid Benyettou (33) yang mengaku telah meninggalkan masa lalunya sebagai seorang militan radikal, juga mengungkapkan bahwa dirinya terakhir bertemu dengan Cheriff sekitar 2 bulan lalu.

"Hal yang ingin dia bahas hanya soal pertempuran untuk jihad. Dia tidak ingin tahu soal hubungan baik dengan tetangganya, atau berperilaku seperti seorang muslim yang baik," ucap Benyettou seperti dilansir AFP, Rabu (14/1/2015).

Benyettou dan Cheriff telah saling kenal selama beberapa tahun dan banyak berkenalan dengan orang-orang dalam lingkaran jihad. Pada tahun 2008 lalu, keduanya pernah diadili bersama di Prancis atas keterlibatan mereka dalam jaringan, yang membantu para ekstremis untuk pergi ke Irak guna melawan tentara Amerika Serikat di sana.

Saat itu, Benyettou dijatuhi vonis 6 tahun penjara oleh pengadilan. Sekeluarnya dari penjara, dia mendapat pelatihan sebagai perawat.

Benyettou tengah berada di tempat kerjanya yakni di salah satu rumah sakit besar di Paris, ketika dia mengetahui mantan muridnya, Cheriff dan saudaranya mendalangi aksi brutal di kantor majalah satire Charlie Hebdo.

"Saya mengecam apa yang telah terjadi," tegas Benyettou dalam wawancara dengan media setempat, iTELE.

"Saya ingin memberikan pesan ini: Islam mengecam semuanya yang telah terjadi -- pembunuhan mengerikan dan pengecut terhadap para jurnalis, polisi dan warga Yahudi. Itu tidak seharusnya dikaitkan dengan Islam. Ini merupakan kejahatan terburuk yang pernah dilakukan seorang muslim," imbuhnya.

Lebih lanjut, Benyettou mengaku dirinya secara sukarela mendatangi dinas intelijen Prancis usai serangan brutal terjadi pada 7 Januari lalu. Di sana, Benyettou sempat diinterogasi selama 2 jam sebelum akhirnya dilepaskan.


(nvc/ita)


Berita Terkait