ISIS menguasai sejumlah wilayah di Suriah dan juga Irak sejak pertengahan tahun 2014 lalu. Di wilayah-wilayah yang dikuasainya tersebut, ISIS memberlakukan hukum syariat Islam versi mereka.
Penutupan sekolah ini dilakukan dengan alasan penyesuaian kurikulum dengan aturan keagamaan yang ditetapkan ISIS. Pada November 2014 lalu, ISIS menutup sekolah-sekolah di wilayah Suriah bagian timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Boulierac, ISIS bahkan menyatakan sekolah-sekolah tersebut ditutup hingga kurikulum sekolah disesuaikan dengan aturan keagamaan yang ditetapkan ISIS.
Boulierac menambahkan, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah di Raqqa dan wilayah Deir al-Zor dan Provinsi Aleppo terdampak parah oleh penutupan ini. Guru-guru setempat, lanjutnya, harus menjalani pelatihan ulang.
Data Kementerian Pendidikan Suriah menyebutkan sebanyak 4,3 juta anak-anak Suriah mendapatkan pendidikan di sekolah. Namun menurut UNICEF, sekitar 2,1 juta hingga 2,4 juta anak-anak kini tidak bersekolah lagi karena memutuskan berhenti sekolah atau hanya hadir tidak tentu.
UNICEF juga mencatat, sedikitnya 160 anak-anak tewas dan 343 anak lainnya luka-luka akibat serangan bom dan serangan bersenjata di sekolah-sekolah di Suriah, sepanjang tahun 2014 lalu. Boulierac menekankan, jumlah tersebut mungkin jauh di bawah data sebenarnya karena sulitnya akses komunikasi untuk mendapat data terbaru.
"Selain kurangnya akses ke sekolah, serangan ke sekolah, guru dan siswa-siswanya menjadi pengingat mengerikan atas harga yang harus dibayar anak-anak Suriah selama krisis yang mendekati tahun kelima," ucap perwakilan UNICEF di Suriah, Hanaa Singer dalam pernyataannya.
(nvc/ita)











































