"Saya mengecam keras serangan teroris terhadap orang yang sedang beribadah di sinagoga (tempat ibadah Yahudi) di Yerusalem," ucap Obama dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Rabu (19/11/2014).
"Tidak pernah ada pembenaran atas serangan semacam itu terhadap warga sipil yang tidak bersalah," imbuhnya.
"Pada masa-masa sensitif di Yerusalem, sangat penting bagi pemimpin Israel dan Palestina dan warga masing-masing untuk bekerja sama menurunkan ketegangan, menolak kekerasan dan mencari jalan menuju perdamaian," tegas Obama.
Dari 5 orang yang tewas dalam serangan brutal tersebut, tiga orang di antaranya merupakan rabbi Yahudi yang memegang kewarganegaraan ganda Israel-AS. Ketiganya diidentifikasi sebagai Mosheh Twersky (59), Cary (Kalman) William Levine (55) dan Aryeh Kupinsky (44).
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Obama menyatakan Menteri Luar Negeri John Kerry telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan maut ini.
"Tragisnya, ini bukan kehilangan pertama yang kita lihat dalam beberapa bulan terakhir ini. Terlalu banyak warga Israel yang tewas, terlalu banyak warga Palestina yang tewas. Dan pada masa sulit seperti ini, saya pikir penting bagi kedua pihak, Palestina dan Israel untuk berusaha bekerja sama untuk menurunkan ketegangan," cetus Obama.
Dalam serangan yang terjadi Selasa (18/11) tersebut, dua pelaku yang disebut warga Palestina langsung ditembak mati polisi Israel di lokasi kejadian. Media Palestina mengidentifikasi pelaku sebagai Ghassan dan Udai Abu Jamal, dua saudara sepupu dari Jabal Mukaber di Yerusalem.
Radio Palestina menyebut para pelaku serangan sebagai martir dan Hamas memuji serangan brutal tersebut. Pengeras suara di masjid-masjid Gaza menyerukan ucapan selamat atas serangan tersebut.
Namun Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam serangan tersebut. Abbas mengecam keras pembunuhan warga sipil, tidak peduli meskipun pelakunya warga Palestina.
(nvc/ita)











































