Sejauh ini belum ada laporan mengenai korban maupun kerusakan besar akibat ledakan-ledakan tersebut. Demikian seperti diberitakan Reuters, Kamis (13/11/2014).
Insiden ini terjadi menyusul rentetan ledakan bom mobil pada Rabu, 12 November di kota-kota yang berada di bawah kendali pemerintahan yang diakui internasional. Pemerintahan Libya yang berpusat di kota Tobruk tersebut, tengah menghadapi tantangan dari pemerintahan tandingan yang dibentuk di Tripoli.
Tiga tahun setelah kejatuhan rezim Muammar Khadafi, Libya terus berada dalam konflik antar faksi-faksi bersenjata yang berebut kekuasaan dan kendali atas wilayah negeri kaya minyak itu.
Sebuah faksi berhasil menguasai ibukota Tripoli dan membentuk pemerintahan dan parlemennya sendiri. Hal ini memaksa parlemen terpilih dan pemerintahan Perdana Menteri Abdullah al-Thinni untuk mundur dari Tripoli dan beroperasi di Tobruk.
Banyak kedutaan dan staf kedutaan telah ditarik dari Tripoli menyusul baku tembak yang kerap terjadi di ibukota Libya itu. Mesir dan Uni Emirat Arab juga telah menarik staf diplomatiknya dari Tripoli, menyusul bentrokan bersenjata antara faksi-faksi bersenjata yang berebut kendali atas wilayah negeri Afrika Utara itu.
(ita/ita)











































