Para wanita tersebut jatuh sakit pada Senin, 10 November waktu setempat setelah menjalani tubektomi laparoskopi di fasilitas yang dinamai kamp keluarga berencana di sebuah desa.
Kamp-kamp tersebut didirikan di Chhattisgarh dan negara-negara bagian India lainnya, sebagai bagian dari kampanye jangka panjang untuk mengendalikan lonjakan populasi India.
Sebanyak 83 wanita yang menjalani tubektomi di kamp tersebut mendapat uang insentif 1.400 rupee (US$ 23) atas kesediaan mereka mengikuti prosedur tersebut. Para pekerja medis juga mendapatkan uang 200 rupee (US$ 3,25) untuk setiap 1 wanita yang mereka bawa ke kamp tersebut.
Demikian disampaikan kepala petugas medis Bilaspur, R.K. Bhange seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (11/11/2014).
Penyebab kematian delapan wanita tersebut belum diketahui pasti. Dikatakan Bhange, sebelum meninggal, mereka muntah-muntah.
Atas kejadian ini, pejabat-pejabat kesehatan senior negara bagian tersebut telah dikirimkan ke lokasi untuk menyelidikinya.
"Sejauh ini, pemerintah tidak menemukan adanya bukti kelalaian," tutur Bhange. Menurutnya, dokter-dokter pemerintah yang melakukan operasi tersebut berpengalaman dalam prosedur sterilisasi.
Kematian akibat sterilisasi bukanlah masalah baru di India. Menurut data pemerintah, lebih dari empat juta sterilisasi dilakukan sepanjang tahun 2013-2014. Antara tahun 2009 dan 2012, pemerintah India membayar kompensasi atas 568 kematian akibat sterilisasi.
(ita/ita)











































