Para perawat telah menuntut adanya perlindungan yang lebih baik saat merawat penderita penyakit mematikan tersebut. Tuntutan ini disampaikan setelah dua perawat di Texas terinfeksi Ebola ketika merawat Thomas Duncan, warga Liberia yang terjangkit Ebola dan meninggal saat mengunjungi keluarganya di Dallas, AS.
"Para perawat, yang telah bersedia mendampingi para pasien apakah itu flu, Ebola, apakah itu kanker, sekarang mereka diminta untuk menempatkan diri mereka dalam bahaya karena tak terlindungi, tak terjaga," cetus Rose Ann DeMoro, direktur eksekutif National Nurses United yang berbasis di Oakland, seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (31/10/2014).
National Nurses United dan afiliasinya, California Nurses Association (CNA) menyatakan, para perawat akan melakukan mogok kerja pada 12 November mendatang di fasilitas-fasilitas 66 Kaiser Permanente di California dan di rumah sakit Providence Hospital di Washington, D.C.
Selain mogok kerja, para perawat di fasilitas-fasilitas lainnya di AS juga akan melakukan aksi protes pada 12 November waktu setempat.
Para pekerja medis yang akan melakukan mogok kerja adalah sekitar 18 ribu perawat, yang merupakan pegawai Kaiser Permanente di California Utara dan California Tengah. Mereka menuntut adanya alat-alat pelindung yang memadai bagi para perawat yang menangani pasien Ebola.
"Kami menginginkan sesuatu yang mana virus tak bisa menembus dari manapun mulai dari kepala hingga ujung kaki dalam tubuh perawat," kata DeMoro.
Namun kepala sumber daya manusia Kaiser, Gay Westfall menegaskan, pihaknya sangat siap untuk virus Ebola dengan protokol dan alat-alat pelindung yang memenuhi atau bahkan melampaui rekomendasi pemerintah federal.
(ita/ita)











































