Kekerasan sektarian mematikan telah melanda Irak sejak tumbangnya rezim Saddam Hussein lebih dari satu dekade silam. Kemarahan warga Sunni pada otoritas Irak yang mayoritas Syiah, dipandang sebagai faktor kunci di balik kebangkitan kelompok ISIS.
"Menjatuhkan bom-bom dari pesawat tak akan menghapuskan terorisme dari apa yang disebut Daulah Islamiyah," ujar ulama Sunni Irak yang mengasingkan diri ke Yordania, Sheikh Abdel Malik al-Saadi seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (30/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang diperlukan untuk menghapuskan terorisme ini adalah memberantas motiv di balik ketidakadilan, marjinalisasi dan genosida, dan memberikan kembali hak-hak dan kebebasan rakyat," tuturnya di Amman, ibukota Yordania yang menjadi tempat tinggal ribuan pengungsi Irak.
Menurut Saadi, AS dan koalisi internasional yang melancarkan serangan udara terhadap ISIS, "harus meninjau kembali posisi mereka karena situasi akan semakin buruk di dunia."
Ulama Sunni Irak itu pun menyerukan para pemimpin koalisi untuk bertemu dengan para tokoh Sunni guna mendengar permintaan mereka, termasuk pembentukan pemerintahan Irak yang terdiri dari para teknokrat.
"Ketika hak-hak kami terpenuhi, kami akan tahu bagaimana berurusan dengan Daulah Islamiyah. Ini masalah kami," tandas Saadi.
Kelompok ISIS telah menguasai sejumlah wilayah di Irak dan Suriah. Kelompok jihadis tersebut bahkan telah mengumumkan pembentukan kekhalifahan Islam dan telah melakukan berbagai kekejian.
Semasa pemerintahan mendiang Saddam, komunitas Sunni, meski merupakan kaum minoritas di Irak, ikut memegang kekuasaan di negeri itu. Namun sejak Saddam terguling dalam invasi AS dan negara-negara sekutu pada tahun 2003, kaum Syiah telah muncul sebagai kekuatan politik penentu.
(ita/ita)











































