ISIS Rilis Video Terbaru Tampilkan Sandera Asal Inggris

ISIS Rilis Video Terbaru Tampilkan Sandera Asal Inggris

- detikNews
Selasa, 28 Okt 2014 12:26 WIB
ISIS Rilis Video Terbaru Tampilkan Sandera Asal Inggris
John Cantlie (CNN)
Damaskus -

Militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merilis video baru yang menunjukkan sandera asal Inggris. Pria Inggris bernama John Cantlie tersebut ditunjukkan berada di kota perbatasan Kobane, Suriah.

Video berdurasi 5 menit tersebut, menunjukkan Cantlie tengah menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Kobane kini dikuasai oleh ISIS. Pernyataan ini seperti menyangkal apa yang dilaporkan oleh kebanyakan media selama ini.

Seperti dilansir CNN, Selasa (28/10/2014), dalam video tersebut Cantlie mengklaim bahwa militan ISIS berhasil membersihkan Kobane dan pertempuran di kota tersebut telah berakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasukan Kurdi di Suriah menyebut pertempuran melawan ISIS di Kobane masih jauh dari selesai, dan pasukan Kurdi dari Irak akan segera bergabung dengan mereka. Pertempuran di Kobane sudah berjalan lebih dari sebulan terakhir dan menewaskan sedikitnya 800 orang.

Video yang diunggah ke internet pada Senin (27/10) tersebut merupakan video terbaru ISIS. Cantlie sendiri dilaporkan sudah menjadi sandera ISIS selama 2 tahun terakhir.

Pria yang berprofesi sebagai wartawan foto ini disebutkan kerap menulis sejumlah artikel untuk beberapa surat kabar ternama Inggris. Dia diculik pada November 2012 lalu bersama jurnalis asal Amerika Serikat James Foley yang lebih dulu dipenggal ISIS.

Dalam video pertamanya yang dirilis ISIS bulan lalu, Cantlie menjelaskan bahwa dirinya dipaksa untuk menyampaikan pesan dari ISIS.

Video terbaru menampilkan Cantlie sebagai reporter di lapangan yang menjelaskan situasi Kobane. Berpakaian serba hitam, Cantlie berdiri cukup dekat perbatasan karena bisa terlihat bendera Turki sebagai latar belakangnya.

"Tampak seperti pertunjukan yang biasa dilakukan koresponden CNN saat laporan di kota asing. Dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dia relaks, bahwa apa yang dia katakan memang akurat. Tapi jelas sekali dia terlihat di bawah tekanan," sebut pengamat keamanan CNN, Peter Bergen.

Sedangkan mantan pejabat antiterorisme CIA, Philip Mudd menyebut video tersebut sebagai alat propaganda ISIS. Meskipun dimaksudkan menunjukkan kekuatan ISIS, Mudd menilai video tersebut justru mengungkapkan kelemahan mereka.

"Mereka menonton media yang sama seperti kita dan melihat bahwa serangan mereka di Kobane tidak berjalan lancar. Ini menjadi pesan untuk menanggapi apa yang mereka pandang sebagai media Barat menggambarkan mereka kalah di Kobane. Mereka pikir mereka perlu menanggapi," jelasnya.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads