Pria Kanada bernama Michael Zehaf-Bibeau tersebut telah mengajukan aplikasi pembuatan paspor, namun aplikasinya itu mengalami penundaan karena dia memiliki catatan kejahatan. Diduga penundaan ini merupakan salah satu pemicu aksi penembakan yang dilakukan pria berumur 32 tahun itu.
Demikian disampaikan Kepala Kepolisian Royal Canadian Mounted Police (RCMP) Bob Paulson pada konferensi pers di Ottawa seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (24/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami perlu menyelidiki dan memahami proses radikalisasinya. Dia orang yang menarik karena dia punya kejahatan yang sangat berkembang," tutur Paulson.
Kepolisian Kanada baru mengetahui soal niat Zehaf-Bibeau untuk pergi ke Suriah setelah mewawancarai ibu pria Kanada itu pada Rabu, 22 Oktober waktu setempat.
Aksi penembakan di gedung parlemen Kanada terjadi hanya beberapa hari setelah Martin Rouleau (25) menabrak dua tentara Kanada dengan mobilnya. Namun kepolisian Kanada belum bisa memastikan apakah ada keterkaitan antara kedua insiden tersebut.
"Kami tak punya informasi yang mengaitkan kedua serangan dalam pekan ini," tandas Paulson.
Aksi penembakan di gedung parlemen Kanada tersebut mengguncang publik di negara yang selama ini dikenal aman tersebut. Penjagaan keamanan pun kini ditingkatkan di berbagai kota di Kanada. Khususnya pengamanan di sekitar gedung-gedung pemerintah, sekolah dan sistem transportasi massal.
(ita/ita)











































