Dalam bentrokan yang terjadi di jalanan ramai di distrik Mongkok, demonstran yang menggunakan payung sebagai perlindungan dari semprotan merica dan tongkat pemukul polisi. Polisi akhirnya mundur sebagian, yang kemudian disambut sorakan dari demonstran.
Sejumlah demonstran kemudian bergegas mendirikan kembali barikade di area tersebut, sedangkan ribuan orang lainnya kembali berkumpul di lokasi unjuk rasa yang telah mereka duduki selama nyaris 3 minggu terakhir. Demikian seperti disampaikan reporter AFP di lokasi, Sabtu (18/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya, polisi telah berhasil mengurangi jumlah demonstran yang menginap di Mongkok, yang merupakan lokasi unjuk rasa terbesar kedua, dalam penggerebekan, Jumat (17/10) dini hari yang tidak mendapat perlawanan dari demonstran.
Namun malamnya, demonstran berusaha melawan barisan polisi yang menjaga ruas jalan Mongkok yang telah dibersihkan agar lalu lintas kembali normal. Bentrokan pun tak terhindarkan hingga tengah malam.
"Kami ingin mengambil kembali tempat ini karena itu yang kami punya," tutur siswa berusia 17 tahun, Gary Yip, yang ikut dalam unjuk rasa.
Bentrokan ini terjadi untuk ketiga kalinya dalam tiga malam terakhir. Akibatnya, rencana perundingan dan dialog antara demonstran dengan otoritas Hong Kong yang dicetuskan sebelumnya, terancam batal.
Unjuk rasa pro-demokrasi ini berlangsung berminggu-minggu untuk menuntut diterapkannya pemilu langsung dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong, Leung Chun-ying yang didukung otoritas China. Demonstran ingin otoritas China tidak mencampuri pemilu yang akan digelar tahun 2017 mendatang di Hong Kong.
(nvc/gah)











































