Satu Lagi Pekerja Medis AS Tertular Ebola, Rumah Sakit Dallas Minta Maaf

Satu Lagi Pekerja Medis AS Tertular Ebola, Rumah Sakit Dallas Minta Maaf

- detikNews
Kamis, 16 Okt 2014 14:35 WIB
Satu Lagi Pekerja Medis AS Tertular Ebola, Rumah Sakit Dallas Minta Maaf
foto: Getty Images
Texas, - Satu lagi pekerja medis Amerika Serikat tertular virus Ebola. Dia merupakan warga AS kedua yang terjangkit virus mematikan ini. Penularan ini menunjukkan serangkaian kelemahan dalam persiapan AS menghadapi Ebola.

Kasus Ebola pertama kali muncul di AS ketika seorang pria Liberia yang mengalami demam dan nyeri tubuh mendatangi rumah sakit di Dallas, AS pada 25 September lalu. Namun pria bernama Thomas Eric Duncan tersebut dibolehkan pulang setelah empat jam.

Pria yang baru kembali dari Afrika Barat yang dilanda wabah Ebola itu, kemudian dilarikan kembali ke rumah sakit yang sama pada 28 September lalu. Duncan mengalami muntah-muntah dan diare. Duncan akhirnya didiagnosa terinfeksi Ebola dan 30 September dan meninggal pada 8 Oktober.

"Sayangnya, dalam perawatan awal kami terhadap Pak Duncan, meskipun dengan niat terbaik kami dan tim medis yang sangat mahir, kami melakukan kesalahan," ujar Dr. Daniel Varga, yang mengelola rumah sakit Dallas tersebut.

"Kami tidak mendiagnosa dengan benar bahwa gejala yang dialaminya adalah gejala Ebola. Kami sangat minta maaf," tuturnya dalam pernyataan tertulisnya untuk para anggota parlemen AS.

Kasus pertama infeksi Ebola di AS adalah wanita bernama Nina Pham, perawat yang telah merawat Duncan. Pekerja medis lainnya dinyatakan tertular Ebola pada Rabu, 15 Oktober waktu setempat. Menurut media The Dallas Morning News, penderita diidentifikasi sebagai Amber Vinson, juga seorang wanita.

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS alias CDC, Thomas Frieden menyebut situasi ini sangat memprihatinkan. Frieden pun mengaku dirinya melakukan kesalahan karena tidak langsung mengirimkan tim ahli CDC ke Dallas untuk melatih staf dan mengawasi respons atas kasus Ebola.

"Yang kita hadapi ini adalah penyakit yang tidak familiar di AS. Itu sulit, saya sering memikirkannya. Seandainya saja kami mengirimkan tim ahli ke lokasi segera setelah Duncan didiagnosa," tutur Frieden.

"Itu mungkin bisa mencegah infeksi ini," tandasnya.

Frieden pun bertekad akan segera mengirimkan tim ahli ke manapun diperlukan, jika kasus baru kembali muncul.

Wabah Ebola yang berawal dari Afrika Barat ini disebut-sebut sebagai krisis kesehatan paling parah di dunia di zaman modern. Virus mengerikan ini telah menewaskan sekitar 70 persen dari total jumlah pasien Ebola di dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengingatkan, virus Ebola bisa segera menjangkiti sekitar 10 ribu orang per minggu. Sejauh ini, sekitar 4.500 orang telah meninggal akibat wabah Ebola, yang sebagian besar korbannya berada di Guinea, Sierra Leone dan Liberia.

(ita/ita)


Berita Terkait